Fotokeratitis: Masalah Mata Akibat Paparan Sinar UV Berlebih>
Mata sering kali terpapar sinar ultraviolet (UV) tanpa disadari, baik saat beraktivitas di bawah terik matahari maupun bekerja menggunakan alat tertentu, seperti las. Jika paparan sinar UV terjadi secara berlebihan tanpa perlindungan yang memadai, mata dapat mengalami iritasi hingga kerusakan pada permukaannya.
Dalam dunia medis, gangguan mata yang terjadi akibat paparan sinar UV disebut sebagai fotokeratitis. Meski umumnya bersifat sementara, kondisi ini tetap perlu dikenali dan ditangani dengan tepat agar tidak mengganggu penglihatan maupun aktivitas sehari-hari. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, simak artikel berikut ini.
Apa Itu Fotokeratitis?
Fotokeratitis adalah peradangan pada kornea (keratitis) yang terjadi akibat paparan sinar UV berlebih. Kondisi ini umumnya menyerang kedua mata sekaligus dan dapat menimbulkan rasa nyeri yang cukup signifikan.
Fotokeratitis juga memiliki nama lain yang disesuaikan dengan penyebabnya. Misalnya, istilah snow blindness digunakan untuk fotokeratitis yang terjadi akibat pantulan sinar UV dari salju dan es. Sementara itu, fotokeratitis akibat paparan cahaya las sering disebut arc eye atau welder’s flash.
Jenis-Jenis Fotokeratitis
Fotokeratitis dibagi menjadi dua jenis, yaitu fotokeratitis akut dan fotokeratitis kronis. Perbedaannya terletak pada lamanya paparan sinar UV serta bagaimana kerusakan pada mata terjadi. Berikut adalah masing-masing penjelasannya:
- Fotokeratitis akut: Fotokeratitis akut adalah jenis yang paling sering terjadi. Kondisi ini muncul akibat paparan sinar UV intens dalam waktu singkat. Kondisi ini umumnya bersifat sementara dan dapat membaik dalam beberapa hari dengan penanganan yang tepat.
- Fotokeratitis kronis: Fotokeratitis kronis terjadi akibat paparan sinar UV dalam kadar yang lebih rendah, tetapi berlangsung terus-menerus dalam jangka panjang. Paparan berulang dapat menyebabkan kerusakan mata yang berkembang secara perlahan dan seiring waktu berisiko menimbulkan gangguan mata yang lebih serius, seperti degenerasi kornea, pterigium, pinguekula, dan katarak.
Penyebab Fotokeratitis
Kornea mata (lapisan bening paling luar) mendeteksi dan menyerap sebagian besar sinar UV-B dan hampir seluruh UV-C yang mencapai permukaan mata. Jika paparannya berlebihan, sel epitel kornea dapat mengalami kerusakan.
Biasanya, beberapa jam setelah terpapar, sel-sel yang sudah mati ini akan mulai mengelupas sehingga membuat jaringan saraf di bawahnya menjadi terbuka dan dan terekspos. Hal inilah yang memicu gejala fotokeratitis, seperti rasa sakit yang luar biasa, fotofobia, dan sensasi seperti ada benda asing di dalam mata.
Paparan sinar UV dapat berasal dari sinar matahari langsung maupun pantulannya, misalnya dari salju, es, atau permukaan air. Selain itu, fotokeratitis juga dapat disebabkan oleh alat tertentu, seperti:
- Alat las.
- Tanning bed.
- Lampu UV pembunuh kuman (germicidal lamps).
- Lampu laser.
- Lampu metal halide yang rusak (umumnya ada di gedung atau lapangan olahraga).
Baca juga: Infeksi Kornea: Penyebab, Gejala, dan Cara Pencegahannya
Faktor Risiko Fotokeratitis
Beberapa orang memiliki risiko lebih tinggi mengalami fotokeratitis karena lebih sering terpapar sinar UV dengan intensitas tinggi atau dalam waktu lama. Risiko ini dapat meningkat baik akibat aktivitas sehari-hari, pekerjaan, maupun lingkungan tempat tinggal.
Beberapa faktor risiko fotokeratitis meliputi:
- Sering beraktivitas di luar ruangan: Orang yang banyak menghabiskan waktu di bawah sinar matahari memiliki risiko lebih tinggi terkena paparan sinar UV, terutama saat melakukan aktivitas, seperti mendaki, bermain ski, berenang, atau berjemur di pantai.
- Menggunakan tanning bed atau sunlamp: Alat penggelap kulit buatan memancarkan sinar UV yang dapat merusak mata jika digunakan tanpa pelindung yang tepat.
- Tinggal di dataran tinggi: Semakin tinggi suatu wilayah, semakin tipis lapisan atmosfer yang melindungi dari sinar UV. Akibatnya, paparan sinar UV menjadi lebih kuat dan risiko fotokeratitis meningkat.
- Bekerja di lingkungan dengan sumber sinar UV: Risiko juga meningkat pada orang yang sering terpapar cahaya UV dari alat las, lampu UV, atau sumber cahaya intens lainnya.
Hal ini didukung oleh beberapa penelitian, salah satunya dari jurnal Media Gizi Kesmas (2023) yang menemukan bahwa sebagian besar pekerja las mengalami gejala fotokeratitis. Kondisi ini dapat terjadi karena pekerja tidak mengenakan pelindung yang memadai sehingga mata terkena sinar las yang mengandung ultraviolet secara berulang.
Gejala Fotokeratitis
Efek sinar UV pada mata biasanya mulai muncul dalam beberapa jam setelah mata terpapar secara berlebihan. Semakin lama mata terkena sinar UV, biasanya gejala yang muncul akan semakin berat. Beberapa gejala fotokeratitis yang dapat muncul meliputi:
- Nyeri atau rasa perih pada mata.
- Mata merah.
- Mata berair.
- Penglihatan kabur.
- Mata terasa silau atau sangat sensitif terhadap cahaya (fotofobia).
- Sensasi seperti ada pasir atau benda asing di mata.
- Pembengkakan pada area mata.
- Sakit kepala.
- Melihat lingkaran cahaya (halo) di sekitar lampu.
- Kelopak mata berkedut (myokymia).
- Pupil tampak mengecil.
Pada kasus yang jarang terjadi, fotokeratitis juga dapat menyebabkan:
- Perubahan sementara pada persepsi warna.
- Kehilangan penglihatan sementara.
Diagnosis Fotokeratitis
Diagnosis fotokeratitis dilakukan melalui wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan mata untuk memastikan apakah keluhan benar disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet (UV). Dalam proses anamnesis, dokter biasanya akan menilai riwayat paparan sinar UV serta gejala yang muncul.
Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik serta fluorescein test. Pemeriksaan ini dilakukan dengan meneteskan cairan pewarna khusus ke mata, lalu mata disinari menggunakan cahaya biru. Jika terdapat kerusakan pada permukaan kornea akibat sinar UV, akan terlihat bintik-bintik hijau pada kornea.
Pada beberapa kasus, pemeriksaan tambahan juga diperlukan untuk melihat adanya kerusakan pada kornea dan menyingkirkan kemungkinan penyakit mata lain yang memiliki gejala serupa, seperti konjungtivitis, cedera akibat bahan kimia, penggunaan lensa kontak berlebihan, atau adanya benda asing pada mata.
Komplikasi Fotokeratitis
Fotokeratitis umumnya bersifat sementara dan dapat membaik dalam beberapa hari. Namun, paparan sinar UV yang berulang atau berlangsung lama dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai gangguan mata yang lebih serius.
Kerusakan akibat sinar UV dapat menumpuk seiring waktu dan memengaruhi berbagai bagian mata, termasuk kornea, lensa mata, hingga retina. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat paparan UV berlebihan meliputi:
- Katarak.
- Degenerasi makula.
- Pinguekula.
- Pterigium.
- Kerusakan retina.
Baca juga: Kenali Ciri-Ciri Retina Mata Bermasalah & Cara Mengatasinya
Bagaimana Menangani Fotokeratitis?
Penanganan fotokeratitis umumnya bertujuan untuk mengurangi keluhan dan membantu permukaan kornea pulih dengan sendirinya. Pada sebagian besar kasus, lapisan kornea dapat membaik dalam waktu sekitar 24–72 jam.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menangani fotokeratitis meliputi:
- Beristirahat di ruangan redup: Mengurangi paparan cahaya dapat membantu meredakan silau dan nyeri pada mata.
- Menutup atau mengistirahatkan mata: Beristirahat dengan mata tertutup dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman selama proses penyembuhan.
- Mengompres mata dengan kain dingin: Kompres dingin pada kelopak mata tertutup dapat membantu meredakan nyeri dan pembengkakan.
- Menggunakan kacamata hitam: Kacamata hitam membantu mengurangi sensitivitas terhadap cahaya selama mata masih iritasi.
- Menggunakan air mata buatan (artificial tears): Tetes air mata buatan dapat membantu menjaga kelembapan mata dan mengurangi rasa perih atau sensasi mengganjal.
- Mengonsumsi obat pereda nyeri: Antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang diresepkan dokter, dapat membantu meredakan nyeri dan rasa tidak nyaman.
- Menggunakan salep antibiotik bila diperlukan: Dokter dapat meresepkan salep antibiotik untuk membantu meningkatkan kenyamanan mata sekaligus mencegah infeksi bakteri sekunder selama kornea masih dalam proses penyembuhan.
- Menghentikan sementara penggunaan lensa kontak: Pengguna lensa kontak dianjurkan tidak memakai lensa terlebih dahulu sampai kornea benar-benar pulih.
Selain itu, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari karena dapat memperlambat penyembuhan, seperti:
- Menggosok mata.
- Menutup mata dengan penutup khusus (eye patch).
- Menggunakan obat tetes tertentu tanpa anjuran dokter.
Cara Mencegah Fotokeratitis
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah fotokeratitis meliputi:
- Menggunakan kacamata pelindung anti-UV.
- Menggunakan pelindung mata saat bekerja, seperti helm las.
- Memakai topi bertepi lebar atau visor saat beraktivitas di luar ruangan, seperti olahraga atau berjemur di pantai.
- Berhati-hati terhadap pantulan sinar UV, seperti genangan air atau permukaan terang lainnya.
- Melakukan pemeriksaan mata rutin untuk mendeteksi gangguan mata lebih dini, terutama pada individu yang sering terpapar sinar UV dalam aktivitas sehari-hari.
Demikian penjelasan mengenai fotokeratitis yang dapat terjadi akibat paparan sinar UV berlebih pada mata. Meski umumnya bersifat sementara, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan rasa tidak nyaman hingga gangguan penglihatan apabila tidak ditangani dengan tepat.
Oleh karena itu, jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada keratitis, segera konsultasikan dengan dokter spesialis mata. Di JEC Eye Hospitals and Clinics, Anda dapat memanfaatkan layanan Kornea untuk mendapatkan pemeriksaan mata secara menyeluruh serta penanganan yang tepat sesuai kondisi mata Anda.
Dengan begitu, risiko komplikasi dan gangguan penglihatan yang lebih serius dapat diminimalkan serta proses pemulihan mata dapat berjalan lebih optimal.
Baca juga: 7 Kebiasaan Buruk yang Merusak Mata dan Cara Pencegahannya


ENG