Apa Itu Degenerasi Makula? Inilah Gejala & Cara Mengatasinya

Oleh Tim Medis JEC

  28 Jan 2026

  190 Views

Share
Degenerasi makula

Seiring bertambahnya usia, perubahan pada penglihatan sering dianggap wajar. Tulisan mulai terasa kurang jelas, wajah orang tampak samar, atau cahaya terasa lebih menyilaukan dari biasanya. Banyak yang mengira hal ini hanya akibat mata lelah atau faktor usia, tanpa menyadari bahwa bisa jadi ada kondisi tertentu di baliknya, seperti degenerasi makula.

 

Degenerasi makula adalah salah satu penyebab gangguan penglihatan yang berkembang perlahan dan kerap luput disadari. Oleh karena itu, penting untuk memahami gejala, penyebab, dan cara menanganinya agar kondisi tidak semakin berkembang menjadi gangguan penglihatan yang lebih serius. Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Degenerasi Makula?

Degenerasi makula adalah gangguan penglihatan yang menyerang penglihatan sentral, yaitu kemampuan melihat objek yang tepat berada di depan mata. Akibatnya, penderita dapat mengalami kesulitan saat membaca, mengenali wajah, atau melihat detail dengan jelas. 

 

Kondisi ini paling sering terjadi pada orang berusia di atas 50 tahun dan termasuk salah satu gangguan mata yang berkaitan dengan proses penuaan.

 

Penyakit ini memengaruhi makula, bagian tengah retina yang berperan penting dalam mengatur penglihatan pusat. Meski demikian, degenerasi makula tidak menyebabkan kebutaan total. Penglihatan tepi atau samping (perifer) umumnya tetap baik sehingga penderitanya masih dapat melihat area di sekeliling, meskipun bagian tengah pandangan menjadi kabur atau hilang.

Jenis-Jenis Degenerasi Makula

Degenerasi makula terbagi dalam dua jenis utama, yakni kering dan basah. Berikut adalah masing-masing penjelasannya.

Degenerasi Makula Kering (Atrophik)

Hampir 90% penderita degenerasi makula mengalami jenis kering. Kondisi ini terjadi ketika endapan protein kecil berwarna kuning yang disebut drusen terbentuk di bawah makula. Penumpukan ini membuat makula menipis dan mengering.

 

Penurunan penglihatan pada jenis kering biasanya berlangsung perlahan dan sebagian besar orang tidak kehilangan penglihatan sentral sepenuhnya. Namun, pada beberapa kasus, degenerasi makula kering dapat berkembang menjadi bentuk basah.

Degenerasi Makula Basah (Eksudatif) 

Degenerasi makula basah terjadi ketika pembuluh darah abnormal tumbuh di bawah retina dan makula. Pembuluh darah ini dapat bocor dan mengeluarkan darah serta cairan. Istilah “eksudatif” sendiri merujuk pada proses keluarnya cairan tersebut.

 

Akibat penumpukan cairan, makula dapat menonjol sehingga muncul bayangan gelap di bagian tengah penglihatan. Sekitar 10% penderita degenerasi makula mengalami jenis ini. Meski lebih jarang, bentuk basah bersifat lebih berat dan dapat menyebabkan hilangnya penglihatan sentral dengan cepat.

Tahapan Degenerasi Makula

Degenerasi makula kering memiliki tiga tahap. Pada banyak kasus, gejala seperti penurunan penglihatan baru terasa saat memasuki tahap lanjut. Meski begitu, dokter dapat melihat tanda-tandanya lebih awal melalui pemeriksaan mata. Berikut adalah tahapannya:

 

  • Tahap awal: Ditandai dengan banyak drusen kecil atau sedang. Di sini, makula mulai mengalami perubahan, tetapi penglihatan masih belum terganggu. 
  • Tahap menengah: Ditandai oleh adanya drusen dalam jumlah banyak, baik berukuran kecil, sedang, atau besar. Pada tahap ini, penglihatan dapat mulai terasa kabur dan bergelombang.
  • Tahap lanjut: Ditandai oleh atrofi geografik atau pertumbuhan pembuluh darah abnormal di bawah retina, yang dapat disertai perdarahan subretina, keluarnya cairan, dan jaringan parut. Ketika mencapai tahap lanjut, penglihatan sentral dapat hilang sepenuhnya. Degenerasi makula basah biasanya sudah berada pada tahap ini.

Baca juga: Presbiopi (Mata Tua) - Penyebab, Gejala, dan Bedanya dengan Hipermetropi

Penyebab Degenerasi Makula

Degenerasi makula dapat terjadi akibat faktor genetik atau keturunan. Namun, kondisi ini juga dapat muncul pada orang yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini. Degenerasi makula muncul ketika makula, bagian tengah retina, mulai menipis atau rusak tanpa sebab yang jelas. 

 

Usia yang bertambah merupakan faktor utama pada degenerasi makula terkait penuaan. Sementara itu, degenerasi makula yang tidak berkaitan dengan usia dapat dipicu oleh beberapa kondisi, termasuk:

 

  • Diabetes, karena dapat dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah kecil di retina, termasuk area makula.
  • Cedera pada kepala, karena benturan keras pada kepala atau mata dapat merusak jaringan retina dan makula, serta mengganggu struktur sel makula atau aliran darah di sekitarnya.
  • Infeksi. Infeksi yang melibatkan mata atau jaringan sekitarnya, seperti infeksi retina atau peradangan pada lapisan dalam mata, dapat merusak sel-sel makula.
  • Kekurangan nutrisi penting dalam makanan. Vitamin A, vitamin C, vitamin E, zinc, lutein, dan zeaxanthin, berperan penting dalam menjaga kesehatan makula. Kekurangan nutrisi tersebut dapat melemahkan fungsi perlindungan retina terhadap stres oksidatif sehingga meningkatkan risiko kerusakan dan degenerasi makula

Faktor Risiko Degenerasi Makula

Dilansir dari jurnal National Library of Medicine (2023), faktor risiko degenerasi makula dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, yakni:

 

  • Sosiodemografi: Usia yang bertambah adalah faktor utama terjadinya degenerasi makula. Selain itu, jenis kelamin, ras, dan etnis juga turut berperan. Dalam hal ini, wanita dan orang kulit putih non-Hispanik cenderung lebih berisiko mengalami degenerasi makula.
  • Gaya hidup: Perokok aktif dua kali lebih berisiko mengalami penurunan penglihatan akibat degenerasi makula dibandingkan dengan bukan perokok. Sementara itu, alkohol, obesitas, dan aktivitas fisik belum terbukti jelas memengaruhi perkembangan degenerasi makula.
  • Kardiovaskular: Tekanan darah tinggi dan adanya plak aterosklerotik (penumpukan lemak, kolesterol, kalsium, dan zat lain di dinding arteri) meningkatkan risiko degenerasi makula tahap lanjut.
  • Genetik: Beberapa variasi genetik terkait sistem komplemen (misalnya Y402H pada gen CFH) meningkatkan risiko degenerasi makula.

Gejala Degenerasi Makula

Makula membantu mengirimkan gambar dari saraf optik mata ke otak. Jika makula rusak, otak tidak bisa mengenali atau membaca gambar yang dilihat mata.

 

Banyak penderita degenerasi makula tidak merasakan gejala sampai penyakit berkembang. Adapun ciri-ciri degenerasi makula yang mungkin muncul antara lain:

 

  • Sulit melihat dalam cahaya redup.
  • Penglihatan kabur.
  • Perubahan atau gangguan dalam melihat warna.
  • Penurunan penglihatan (low vision).
  • Garis lurus tampak bergelombang atau melengkung.
  • Muncul bercak kosong atau gelap di area penglihatan.

Baca juga: Katarak pada Lansia: Pencegahan dan Pengobatan yang Perlu Diketahui

Diagnosis Degenerasi Makula

Sebelum melakukan pemeriksaan fisik, dokter mata biasanya akan memulai pemeriksaan dengan anamnesis, yakni wawancara untuk menanyakan keluhan penglihatan, riwayat kesehatan mata, riwayat keluarga, serta gaya hidup yang mungkin berisiko terhadap degenerasi makula.

 

Selama pemeriksaan mata, dokter akan memeriksa retina dan makula Anda. Beberapa tes yang mungkin dilakukan antara lain:

 

  • Tes Amsler grid: Menggunakan kisi-kisi garis lurus dengan titik besar di tengah. Dokter mungkin meminta Anda menunjukkan garis atau bagian yang terlihat kabur, bergelombang, atau terputus. Banyak distorsi bisa menunjukkan degenerasi makula atau menandakan penyakit semakin parah. Tes ini juga bisa dilakukan di rumah untuk memantau gejala.
  • Pemeriksaan mata dengan pupil melebar (dilated eye exam): Tetes mata digunakan untuk melebarkan pupil, lalu dokter menggunakan lensa khusus untuk memeriksa bagian dalam mata.
  • Fluorescein angiography: Dokter menyuntikkan zat pewarna kuning (fluorescein) ke dalam pembuluh darah di lengan, kemudian kamera khusus mengikuti aliran pewarna di pembuluh darah mata untuk mendeteksi kebocoran di bawah makula.
  • Optical coherence tomography (OCT): Mesin ini mengambil gambar detail bagian belakang mata, termasuk retina dan makula. OCT bersifat noninvasif atau tidak menyakitkan dan Anda hanya perlu menatap lensa saat gambar diambil.
  • Optical coherence tomography angiography (OCTA): Tes ini menggunakan pantulan cahaya laser (tanpa pewarna fluorescein) dengan alat OCT untuk menghasilkan gambar 3D aliran darah di mata dalam waktu singkat.

Komplikasi Degenerasi Makula

Komplikasi paling serius dari degenerasi makula adalah kehilangan penglihatan hingga kebutaan. Gangguan penglihatan yang terjadi umumnya menyerang area penglihatan sentral, sementara penglihatan perifer biasanya masih dapat berfungsi. Kondisi ini dapat berdampak pada kualitas hidup penderitanya, termasuk meningkatkan risiko isolasi sosial dan gangguan kesehatan mental seperti depresi. Dalam beberapa kasus, penderita degenerasi makula juga dapat mengalami halusinasi visual yang dikenal sebagai sindrom Charles-Bonnet.

Pengobatan Degenerasi Makula

Saat ini, belum ada obat yang dapat menyembuhkan degenerasi makula. Namun, memulai pengobatan lebih awal dapat memperlambat perkembangan penyakit dan membuat gejala lebih ringan. Meskipun pengobatan berhasil, gejala sering kali bisa kambuh.

 

Pengobatan degenerasi makula tergantung pada jenis penyakit, yakni kering dan basah. Keduanya membutuhkan pendekatan yang berbeda, tetapi tujuannya sama, yaitu memperlambat kerusakan dan mempertahankan penglihatan.

 

  • Pengobatan degenerasi makula kering: Belum ada obat yang bisa menyembuhkan, tetapi suplemen tertentu yang mengandung vitamin C, vitamin E, zinc, lutein, dan zeaxanthin bisa membantu memperlambat perkembangan penyakit. Saat ini, beberapa terapi baru sedang dikembangkan untuk mengurangi kerusakan pada makula.
  • Pengobatan degenerasi makula basah: Penderita degenerasi makula basah diberikan obat anti-VEGF yang disuntikkan ke dalam mata untuk menghentikan pertumbuhan pembuluh darah abnormal dan melindungi penglihatan. Beberapa metode tambahan, seperti terapi laser atau terapi fotodinamik (PDT) juga dapat digunakan dalam beberapa kasus.

Pencegahan Degenerasi Makula

Anda bisa melakukan beberapa langkah ini untuk menurunkan risiko degenerasi makula:

 

  • Berhenti merokok.
  • Menjaga berat badan ideal.
  • Tetap aktif secara fisik.
  • Mengontrol tekanan darah dan kadar kolesterol.
  • Mengikuti pola makan sehat.

Demikian penjelasan mengenai apa itu degenerasi makula, lengkap dengan penyebab, gejala, hingga langkah pencegahannya. Dengan memahami kondisi ini, Anda bisa lebih waspada terhadap perubahan penglihatan dan mengambil langkah tepat untuk menjaga kesehatan mata sejak dini.

 

Jika Anda mengalami keluhan yang mengarah pada penyakit degenerasi makula, seperti penglihatan kabur atau garis lurus yang tampak bergelombang, segera lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Anda dapat berkonsultasi dengan dokter mata melalui layanan Vitreoretina di JEC Eye Hospitals and Clinics, di mana penanganan retina dilakukan secara menyeluruh dan profesional untuk menjaga kesehatan penglihatan Anda.

 

Baca juga: Kenali Ciri-Ciri Retina Mata Bermasalah & Cara Mengatasinya

icon-doctor