Mohon Tunggu ..

Ini Ciri-Ciri Gangguan Saraf Mata yang Tak Boleh Diabaikan

Ditinjau oleh Dr. Valenchia, SpM, ChM
Oleh Tim Medis JEC

  29 Jul 2026

  501 Views

Share
ciri-ciri gangguan saraf mata

Perubahan pada penglihatan tidak selalu disebabkan oleh kelainan pada bola mata. Sebab dalam beberapa kondisi, gangguan saraf mata juga dapat menjadi penyebabnya. 

Dengan mengenali ciri-ciri gangguan saraf mata, Anda dapat lebih peka terhadap setiap perubahan kecil pada penglihatan Anda. Mari simak pembahasan berikut untuk mengetahui berbagai jenis serta beberapa gejala gangguan saraf mata yang sering muncul.

Ciri-Ciri Gangguan Saraf Mata

Gangguan saraf mata mencakup berbagai kondisi yang dapat memengaruhi fungsi saraf optik dalam menghantarkan sinyal visual dari mata ke otak.

Setiap jenis gangguan saraf mata memiliki penyebab, mekanisme, dan ciri-ciri yang berbeda sehingga gejala yang muncul pun dapat bervariasi. Berikut penjelasan selengkapnya:

1. Glaukoma

Glaukoma ditandai dengan kerusakan progresif pada saraf optik. Kondisi ini umumnya disebabkan oleh tekanan bola mata yang tinggi. Apabila tidak ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan penyempitan lapang pandang hingga kehilangan penglihatan secara permanen.

Setiap jenis glaukoma dapat menimbulkan gejala yang berbeda. Pada glaukoma sudut terbuka, gejala sering kali tidak terasa pada tahap awal. Sementara itu, glaukoma sudut tertutup dapat muncul secara mendadak dengan gejala, seperti:

  • Mata merah.
  • Sakit kepala hebat.
  • Penglihatan kabur hingga kehilangan penglihatan secara mendadak.
  • Kehilangan penglihatan tepi secara bertahap pada glaukoma kronik.
  • Nyeri mata hebat, terutama pada glaukoma akut atau nyeri yang hilang timbul pada glaukoma kronik.

2. Neuritis Optik

Neuritis optik adalah peradangan pada saraf optik yang menghubungkan mata dengan otak. Kondisi ini mengganggu penghantaran sinyal visual sehingga dapat menyebabkan nyeri mata, gangguan penglihatan, hingga kehilangan penglihatan warna (diskromatopsia).

Peradangan pada neuritis optik dapat merusak selubung mielin, yaitu lapisan pelindung yang membungkus serabut saraf optik. Ketika lapisan ini rusak, sinyal dari mata tidak dapat diteruskan ke otak secara optimal sehingga kemampuan melihat dapat menurun.

Baca juga: Ablasio Retina: Penyebab Retina Lepas, Gejala, dan Cara Mengobatinya

3. Optic Nerve Drusen

Tidak semua gangguan saraf mata disebabkan oleh peradangan atau peningkatan tekanan mata. Pada beberapa orang, gangguan saraf mata dapat terjadi akibat penumpukan protein dan kalsium di dalam saraf optik yang dikenal sebagai optic nerve drusen. 

Endapan protein dan kalsium ini umumnya berkembang secara perlahan dan sering kali baru terdeteksi saat pemeriksaan mata oleh dokter. Adapun gejala optic nerve drusen yang umum terjadi meliputi:

  • Penurunan penglihatan tepi (perifer).
  • Penglihatan tampak berkedip-kedip sementara atau sesaat terlihat abu-abu. 

4. Atrofi Saraf Optik

Agar dapat melihat dengan baik, mata membutuhkan saraf optik untuk mengirimkan sinyal ke otak. Ketika saraf optik rusak, sinyal tersebut tidak dapat diteruskan dengan optimal sehingga penglihatan menjadi terganggu. Kondisi ini disebut atrofi optik.

Atrofi optik dapat dipicu oleh berbagai kondisi medis, seperti faktor genetik, gangguan aliran darah, trauma fisik, infeksi bakteri, maupun retinopati diabetik.

Gejala atrofi optik dapat berbeda pada setiap penderita, tergantung pada penyebab dan tingkat kerusakan saraf optik. Gejala gangguan saraf mata ini meliputi:

  • Penyempitan lapang pandang.
  • Sulit membedakan warna.
  • Penurunan ketajaman penglihatan pada satu atau kedua mata.

5. Idiopathic Intracranial Hypertension

Tekanan di dalam rongga kepala yang terlalu tinggi tidak hanya dapat memengaruhi otak, tetapi juga berdampak pada saraf optik. Kondisi ini dikenal sebagai idiopathic intracranial hypertension (IIH), yaitu peningkatan tekanan intrakranial tanpa penyebab yang jelas, seperti tumor atau infeksi.

Gejala IIH umumnya diawali dengan sakit kepala yang sering kambuh dan dapat disertai penglihatan kabur yang muncul sementara, terutama saat mengubah posisi tubuh.

Sebagian penderita juga mengalami penglihatan ganda, melihat kilatan cahaya, atau penyempitan lapang pandang. Selain itu, idiopathic intracranial hypertension (IIH) juga dapat menimbulkan bunyi berdenging di telinga yang mengikuti denyut nadi (pulsatile tinnitus). 

6. Septo-Optic Dysplasia

Septo-optic dysplasia adalah kelainan bawaan langka yang ditandai dengan perkembangan saraf optik yang tidak sempurna sejak dalam kandungan. Kondisi ini juga dapat disertai kelainan pada struktur otak dan kelenjar hipofisis yang berperan dalam mengatur produksi hormon tubuh.

Gejala septo-optic dysplasia dapat berbeda pada setiap anak. Sebagian anak mengalami gangguan penglihatan sejak bayi, seperti ketajaman penglihatan yang menurun, mata bergerak tidak terkendali (nistagmus), atau mata juling (strabismus).

Pada sebagian kasus, septo-optic dysplasia juga dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan, gangguan perkembangan, maupun kekurangan hormon akibat fungsi kelenjar hipofisis yang terganggu.

Baca juga: Mengenal Toxic Optic Neuropathy: Penyebab hingga Cara Penanganannya

7. Neuromyelitis Optica

Sistem kekebalan tubuh seharusnya melindungi tubuh dari infeksi. Namun, pada beberapa kondisi autoimun, sistem imun justru menyerang jaringan tubuh yang sehat. Hal inilah yang terjadi pada neuromyelitis optica (NMO), yaitu penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada saraf optik dan sumsum tulang belakang.

Penderita neuromyelitis optica dapat mengalami penurunan penglihatan pada satu atau kedua mata, nyeri saat menggerakkan mata, serta kesulitan membedakan warna.

8. Nutritional dan Toxic Optic Neuropathies

Saraf optik membutuhkan asupan nutrisi yang cukup agar dapat berfungsi dengan baik. Sebaliknya, kekurangan vitamin tertentu atau paparan zat beracun dapat merusak serabut saraf optik dan mengganggu penghantaran sinyal visual ke otak.

Kondisi tersebut dikenal sebagai nutritional optic neuropathy jika disebabkan oleh kekurangan nutrisi, atau toxic optic neuropathy jika dipicu oleh paparan zat toksik, seperti timbal, metanol (alkohol kayu atau alkohol metil), etilen glikol (antibeku), atau obat-obatan tertentu.

Gejala nutritional dan toxic optic neuropathies biasanya berkembang secara bertahap sehingga sering kali tidak disadari pada awalnya. Penderita dapat mengalami penurunan ketajaman penglihatan pada kedua mata, penglihatan kabur, serta kesulitan membedakan warna, terutama merah dan hijau. 

Selain itu, dapat muncul titik buta di bagian tengah lapang pandang (central scotoma) sehingga aktivitas seperti membaca atau mengenali wajah menjadi lebih sulit.

Demikian penjelasan mengenai ciri-ciri gangguan saraf mata serta berbagai kondisi yang dapat memicu gangguan tersebut. Setiap jenis gangguan dapat menimbulkan gejala yang berbeda sehingga penting untuk tidak mengabaikan perubahan sekecil apa pun pada penglihatan Anda. 

Apabila Anda mengalami gejala yang mengarah pada gangguan saraf mata, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. Dokter akan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui penyebab keluhan serta menentukan terapi yang sesuai dengan kondisi Anda.

Untuk pemeriksaan yang lebih komprehensif, Anda dapat memanfaatkan layanan Neuro-Oftalmologi di JEC Eye Hospitals and Clinics. Melalui layanan ini, dokter dapat membantu mendeteksi dan menangani berbagai gangguan yang melibatkan saraf optik serta hubungan antara mata dan sistem saraf.

Seluruh proses pemeriksaan di JEC Eye Hospitals and Clinics ditangani oleh dokter spesialis mata yang berpengalaman di bidang neuro-oftalmologi dan didukung teknologi diagnostik yang canggih sehingga pemeriksaan dapat dilakukan secara akurat sesuai kondisi setiap pasien.

Baca juga: Letak Saraf Mata di Kepala, Inilah Fungsi dan Cara Merawatnya 

icon-doctor