Toxic Optic Neuropathy: Penyebab hingga Penanganannya

Ditinjau oleh Dr. Valenchia, SpM, ChM
Oleh Tim Medis JEC

  04 Jun 2026

  20 Views

Share
Toxic optic neuropathy

Penglihatan buram, sulit membedakan warna, atau terasa seperti ada bagian pandangan yang menghilang merupakan gejala gangguan mata yang tidak boleh diabaikan. Terutama apabila gejala tersebut muncul setelah mata terpapar zat berbahaya.

 

Jika demikian, kondisi ini dapat mengarah pada toxic optic neuropathy, yakni kerusakan pada saraf optik yang disebabkan oleh paparan zat tertentu secara sistemik (seluruh tubuh), seperti obat-obatan atau bahan kimia beracun. Untuk mengetahui penjelasan lengkapnya, simak artikel berikut ini.

Apa Itu Toxic Optic Neuropathy?

Neuropati optik toksik atau toxic optic neuropathy adalah kerusakan saraf optik akibat paparan zat beracun (toksin). 

 

Kerusakan saraf tersebut dapat ditandai dengan menurunnya penglihatan secara bertahap pada kedua mata dan sering kali disertai gangguan lapang pandang pada area penglihatan tengah, seperti munculnya titik gelap atau bagian pandangan yang hilang.

Penyebab Toxic Optic Neuropathy

Zat-zat toksik yang masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi, inhalasi, atau absorpsi sistemik, lalu menyebabkan kerusakan saraf optik (mata) dengan cara menyerang mitokondria (pusat energi) pada sel ganglion retina, khususnya pada area berkas papilomakular yang mengontrol ketajaman penglihatan pusat. 

Karena sel-sel saraf mata membutuhkan energi yang sangat besar, gangguan pada mitokondria ini memicu stres oksidatif yang berujung pada kematian sel saraf secara progresif.

 

Adapun zat yang dapat memicu toxic optic neuropathy sangat beragam, mulai dari logam berat akibat pencemaran lingkungan hingga efek samping obat-obatan tertentu. Dilansir dari salah studi dalam AJO International (2025), berikut adalah beberapa zat penyebabnya:

  • Arsenik: Paling sering ditemukan di air yang terkontaminasi limbah industri.
  • Merkuri: Menghirup udara yang mengandung zat berbahaya di tempat kerja, terlalu sering mengonsumsi ikan laut yang mengandung merkuri tinggi, serta memakai krim pemutih ilegal yang mengandung bahan berbahaya seperti merkuri.
  • Timbal: Paparan ini bisa berasal dari penggunaan opium mentah yang tercemar, penggunaan cat dinding berbahan timbal, air bersih yang mengalir lewat pipa-pipa lama, hingga polusi dari emisi industri.
  • Metanol: Keracunan metanol (biasanya dari alkohol oplosan) dapat menyebabkan toxic optic neuropathy akut.
  • Ethambutol: Obat antituberkulosis (TBC) yang digunakan dalam jangka panjang juga dikenal dapat merusak selubung mielin pada bundel saraf mata papilomakular jika dosisnya tidak diawasi. 

Apakah Alkohol Bisa Menyebabkan Toxic Optic Neuropathy?

Konsumsi alkohol berlebihan memang sering dikaitkan dengan toxic optic neuropathy, tetapi alkohol sebenarnya bukan racun yang secara langsung merusak saraf mata. Kondisi ini lebih sering terjadi karena dampak jangka panjang alkohol terhadap nutrisi tubuh.

 

Lantas, mengapa konsumsi alkohol berlebihan sering kali memicu penurunan fungsi penglihatan?

 

Konsumsi alkohol secara berlebihan dalam jangka panjang dapat merusak saluran pencernaan, yang berujung pada malnutrisi dan gangguan penyerapan vitamin penting di dalam tubuh.

 

Jadi, kondisi mata yang memburuk umumnya bukan dipicu oleh zat alkoholnya secara langsung, melainkan akibat tubuh yang kekurangan nutrisi berat (terutama vitamin B12, folat, dan vitamin B1). Ketika tubuh tidak mampu menyerap vitamin dengan baik, saraf mata akan perlahan melemah karena kekurangan nutrisi penting untuk menjaga fungsinya tetap normal.

 

Namun, lain halnya jika toxic optic neuropathy terjadi akibat zat metanol yang biasanya ada di alkohol oplosan. Di dalam tubuh, zat ini akan berubah menjadi senyawa yang dimetabolisme menjadi asam format yang langsung menyerang saraf optik, biasanya dalam 24–48 jam setelah paparan. 

 

Baca juga: Letak Saraf Mata di Kepala, Inilah Fungsi & Cara Merawatnya

Gejala Toxic Optic Neuropathy

Umumnya, kerusakan saraf mata akibat racun (toxic optic neuropathy) berkembang pelan-pelan dalam hitungan hari atau minggu. Hal inilah yang membuat gejalanya sering kali tidak disadari sejak awal.

 

Berikut adalah tanda-tanda yang sering muncul pada penderita toxic optic neuropathy:

  • Penglihatan semakin kabur secara perlahan.
  • Adanya area gelap (blind spot) di tengah penglihatan yang semakin membesar.
  • Mata sulit fokus saat membaca atau melihat detail kecil.
  • Warna tampak memudar, khususnya warna merah dan hijau.
  • Pandangan terasa redup atau kurang tajam.
  • Keluhan biasanya terjadi pada kedua mata sekaligus.

Pada kasus tertentu akibat keracunan zat berbahaya seperti metanol, gangguan penglihatan dapat muncul secara mendadak dan berat, bahkan menyebabkan kebutaan total dalam waktu singkat. 

 

Kondisi ini juga sering disertai gejala lain, seperti muntah, nyeri perut, sesak napas, penurunan kesadaran, hingga koma sehingga memerlukan penanganan darurat segera.

 

Baca juga: Ciri Mata Kabur karena Diabetes yang Perlu Diwaspadai!

Diagnosis Toxic Optic Neuropathy

Diagnosis toxic optic neuropathy umumnya dilakukan melalui wawancara medis (anamnesis) dan pemeriksaan mata secara menyeluruh. Dokter akan menelusuri riwayat paparan zat beracun, penggunaan obat tertentu, konsumsi alkohol berlebihan, hingga kemungkinan kekurangan nutrisi yang dapat memengaruhi saraf mata.

 

Selain menanyakan gejala yang dialami, dokter juga akan melakukan pemeriksaan penglihatan untuk menilai seberapa besar gangguan yang terjadi. Pemeriksaan ini biasanya meliputi:

  • Ketajaman penglihatan.
  • Kemampuan membedakan warna.
  • Pemeriksaan lapang pandang untuk melihat adanya titik buta (blind spot).
  • Pemeriksaan saraf mata dan retina.

Pada beberapa kasus, dokter juga dapat menyarankan pemeriksaan tambahan untuk mencari penyebab yang mendasari. Misalnya, pemeriksaan kadar zat beracun tertentu bila dicurigai terjadi paparan toksin, seperti metanol, timbal, atau zat kimia lainnya.

 

Karena gejala toxic optic neuropathy sering berkembang perlahan, diagnosis dini sangat penting agar kerusakan saraf mata tidak semakin berat dan peluang pemulihan penglihatan menjadi lebih baik.

Bagaimana Penanganan Toxic Optic Neuropathy?

Kunci utama dalam menangani toxic optic neuropathy adalah menghentikan paparan sumber racunnya dan mencegah kerusakan saraf mata agar tidak semakin parah. Semakin cepat ditangani, peluang penglihatan untuk membaik juga akan semakin besar.

 

Beberapa langkah penanganan yang biasanya dilakukan meliputi:

  • Menghentikan konsumsi atau paparan zat penyebab, obat tertentu atau bahan kimia beracun.
  • Penanganan darurat pada keracunan berat, misalnya keracunan metanol, dengan pemberian obat penawar dan cuci darah (hemodialisis) untuk membantu mengeluarkan racun dari tubuh.
  • Penggunaan alat bantu penglihatan bagi pasien yang sudah mengalami penurunan penglihatan yang cukup berat.

Jika penyebabnya dapat ditemukan dan ditangani sejak dini, sebagian pasien masih memiliki peluang untuk mendapatkan kembali sebagian fungsi penglihatannya. Namun, pada kasus yang terlambat ditangani, kerusakan saraf mata dapat menjadi permanen.

 

Demikian penjelasan mengenai toxic optic neuropathy, mulai dari penyebab, gejala, hingga penanganannya. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena kerusakan saraf mata dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari.

 

Jika Anda mengalami penglihatan kabur yang semakin memburuk, sulit membedakan warna, atau memiliki riwayat paparan zat beracun, segera lakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh. 

 

Melalui layanan Neuro-Oftalmologi di JEC Eye Hospitals and Clinics, pasien dapat memperoleh evaluasi dan penanganan komprehensif untuk gangguan saraf mata, termasuk toxic optic neuropathy, dengan dukungan dokter spesialis dan teknologi pemeriksaan mata yang modern. 

 

Dengan penanganan yang cepat dan tepat, risiko kerusakan saraf mata yang lebih berat dapat dikurangi sehingga kualitas penglihatan tetap terjaga.

 

Baca juga: Mengenal Visual Snow Syndrome, Penyebab hingga Pengobatannya

icon-doctor