Mengenal Visual Snow Syndrome, Penyebab hingga Pengobatannya

Ditinjau oleh Dr. Valenchia, SpM, ChM
Oleh Tim Medis JEC

  28 Apr 2026

  47 Views

Share
Visual snow syndrome

Pernahkah Anda melihat bintik-bintik kecil yang menyerupai salju di depan mata? Fenomena ini disebut dengan visual snow syndrome, yakni gangguan saraf yang memengaruhi penglihatan dan ditandai dengan berbagai macam gejala, salah satunya adalah melihat bintik-bintik seperti salju.

 

Bagi sebagian orang, kondisi ini bisa cukup mengganggu konsentrasi dan kesehatan mental sehingga perlu penanganan lebih lanjut. Untuk mengetahui informasi selengkapnya, simak artikel berikut ini.

Apa Itu Visual Snow Syndrome?

Visual snow syndrome adalah kondisi langka yang ditandai dengan beberapa gangguan penglihatan, seperti melihat bintik-bintik kecil menyerupai salju di seluruh atau sebagian lapang pandang. 

 

Bintik-bintik tersebut dapat terlihat berwarna, hitam putih, atau transparan. Pada beberapa kasus, bintiknya terlihat lebih terang daripada area di sekitarnya, terutama saat berada di ruangan gelap. Begitu pun sebaliknya, jika penderita berada di ruangan terang, bintik akan terlihat lebih gelap.

 

Selain itu, kondisi ini juga kerap disertai dengan palinopsia, yaitu munculnya bayangan yang tertinggal setiap kali mengalihkan pandangan dari suatu objek. Akibatnya, penderita sering merasa seolah sedang melihat jejak atau sisa bayangan dari objek sebelumnya yang terus membayangi pandangan mereka selama beberapa saat.

Penyebab Visual Snow Syndrome

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti penyebab visual snow syndrome. Namun, studi dari National Library of Medicine (2024) menemukan bahwa meskipun mata penderita tampak sehat secara fisik, masalah sebenarnya terletak pada sistem saraf di otak. 

 

Otak penderita mengalami aktivitas berlebih (hyperresponsivity) sehingga gagal menyaring gangguan visual yang seharusnya tidak terlihat. Akibatnya, muncul fenomena bintik-bintik seperti salju, yang sering kali dibarengi dengan telinga berdenging (tinnitus) atau migrain karena saraf-saraf di otak sedang dalam kondisi yang sangat sensitif.

Faktor Risiko Visual Snow Syndrome

Faktor risiko visual snow syndrome ternyata sangat luas dan melibatkan keterkaitan antara kondisi fisik, riwayat keluarga, hingga gaya hidup. Berikut adalah faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya visual snow syndrome:

  • Riwayat penyakit penyerta, seperti migrain, tinnitus, dan kelelahan atau nyeri otot kronis (fibromialgia).
  • Kondisi psikologis dan saraf, seperti gangguan kecemasan, stres, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan disleksia.
  • Riwayat penggunaan obat halusinogen yang dapat menimbulkan gejala visual snow syndrome dalam jangka panjang.
  • Faktor genetik dan keturunan, seperti riwayat keluarga yang mengidap visual snow syndrome atau adanya varian genetik tertentu (seperti gen APOB). 

Apa Gejala Visual Snow Syndrome?

Gejala visual snow syndrome dapat dibedakan menjadi gejala penglihatan dan bukan penglihatan. Berikut adalah gejala penglihatan yang umum terjadi:

  • Melihat bintik-bintik kecil seperti salju di seluruh atau sebagian besar lapang pandang.
  • Melihat jejak bayangan saat mengalihkan pandangan dari objek atau saat objek berpindah (palinopsia).
  • Sensitif terhadap cahaya (fotofobia).
  • Sulit melihat di malam hari (nyctalopia).
  • Melihat sesuatu yang sebenarnya berasal dari dalam mata sendiri, bukan dari objek di luar (entoptic phenomena).
  • Melihat kilatan atau titik cahaya (photopsia).
  • Muncul floaters atau bintik yang melayang.

Sementara itu, gejala yang tidak berhubungan dengan penglihatan antara lain:

  • Migrain yang sering kali disertai dengan aura.
  • Telinga berdenging (tinnitus).
  • Sulit berkonsentrasi atau brain fog.
  • Merasa cemas, depresi, atau mudah marah.
  • Mengalami gangguan tidur (insomnia).
  • Lemas.
  • Pusing atau mual.
  • Vertigo.

Diagnosis Visual Snow Syndrome

Dokter akan melakukan wawancara medis (anamnesis) terlebih dahulu untuk menggali riwayat kesehatan dan keluhan yang dirasakan. 

 

Kemudian, evaluasi dilakukan dengan pemeriksaan mata secara menyeluruh. Pasien juga dapat menjalani tes tambahan atau pemeriksaan pencitraan untuk membantu memastikan bahwa keluhan yang muncul bukan disebabkan oleh penyakit lain.

 

Dalam beberapa kondisi, pasien mungkin akan dirujuk ke dokter spesialis saraf untuk evaluasi lebih lanjut. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa gejala yang dirasakan bukan merupakan sisa efek dari obat-obatan, kondisi medis tertentu, ataupun aura migrain.

 

Seseorang baru bisa didiagnosis jika memenuhi kriteria berikut:

  • Gejala telah berlangsung minimal 3 bulan.
  • Melihat bintik-bintik salju di seluruh lapang pandang.
  • Disertai dengan gejala lain, seperti palinopsia, entoptic phenomena, fotofobia, atau nyctalopia.

Baca juga: Awas! Inilah 10 Penyebab Fotofobia yang Perlu Diperhatikan

Penanganan Visual Snow Syndrome

Visual snow syndrome adalah penyakit mata yang hingga saat ini belum ada penanganan standar atau prosedur bedah yang bisa benar-benar menyembuhkannya. Maka dari itu, fokus utama penanganan adalah membantu pasien beradaptasi, mengelola gejala, dan meningkatkan kualitas hidup.

 

Berikut adalah beberapa penanganan yang umumnya direkomendasikan oleh dokter:

  • Edukasi dan konseling: Karena kondisi ini sering kali membingungkan, pasien memerlukan penjelasan medis dan konseling. Di sini, dokter akan memberikan pemahaman dan menenangkan pasien bahwa ini bukanlah kondisi yang berbahaya.
  • Penyesuaian aktivitas sehari-hari: Beberapa cara sederhana bisa membantu mengurangi gangguan, seperti:
    • Menggunakan kertas berwarna lembut saat membaca.
    • Menghindari cahaya yang terlalu terang.
    • Menggunakan penanda (bookmark) agar tidak kehilangan baris saat membaca.
    • Memakai kacamata lensa berwarna (tinted lenses) untuk mengurangi efek visual snow syndrome.
    • Menggunakan blue light filter pada layar.
  • Pendekatan psikologis: Visual snow syndrome dapat memengaruhi kesehatan mental sehingga pendekatan, seperti cognitive behavioral therapy (CBT), meditasi, dan mindfulness dapat membantu penderita mengelola kecemasan.
  • Obat-obatan: Hanya diberikan pada kasus tertentu.

Baca juga: Neuritis Optik - Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Apakah Visual Snow Syndrome Berbahaya?

Visual snow syndrome tidak berbahaya dan tidak menyebabkan kebutaan. Meskipun gejalanya terasa sangat nyata dan mengganggu, kondisi ini tidak merusak struktur mata Anda. Pasalnya, gangguan ini merupakan masalah neurologis, di mana otak kesulitan memproses gambar sehingga menimbulkan bintik-bintik.

 

Meskipun secara klinis tidak berbahaya (tidak mematikan atau merusak organ), visual snow syndrome bisa mengganggu kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik. Gejala yang terus-menerus muncul sering kali memicu:

  • Kecemasan berlebih dan stres.
  • Gangguan konsentrasi saat bekerja atau membaca.
  • Depresi karena merasa tidak ada orang yang memahami apa yang mereka lihat.

Oleh karena itu, fokus utama penanganan biasanya lebih diarahkan pada langkah adaptasi dan pengelolaan gejala guna meningkatkan kualitas hidup penderita. Dengan kombinasi terapi yang tepat serta manajemen stres yang baik, penderita dapat kembali beraktivitas dengan nyaman tanpa harus merasa terbebani oleh gangguan visual yang dialami.

 

Demikian penjelasan mengenai visual snow syndrome, mulai dari pengertian hingga penanganannya. Meskipun tidak berbahaya bagi kesehatan mata, pemahaman yang tepat serta penanganan sejak dini dapat membantu Anda mengelola gejala dengan lebih baik.

 

Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada visual snow syndrome, seperti melihat bintik-bintik menyerupai salju dan jejak bayangan, jangan ragu untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter. Dengan begitu, Anda akan memperoleh diagnosis dan strategi penanganan yang efektif guna menjaga kenyamanan penglihatan.

 

Dalam hal ini, JEC Eye Hospitals and Clinics menghadirkan layanan Neuro-Oftalmologi yang didedikasikan untuk mendeteksi serta menangani gangguan penglihatan yang berhubungan dengan masalah neurologi seperti ini. Dengan penanganan yang tepat, gejala bisa dikelola secara optimal dan Anda dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.

 

Baca juga: Cara Mengatasi Sakit di Alis Mata dengan Aman

icon-doctor