Eksotropia pada Mata: Penyebab dan Cara Mengobatinya
Saat melihat wajah di cermin, posisi kedua mata biasanya tampak sejajar dan mengarah ke objek yang sama. Namun, pada kondisi tertentu, posisi salah satu mata dapat terlihat bergerak ke arah luar (juling ke luar). Dalam istilah medis, kondisi tersebut dikenal sebagai eksotropia.
Eksotropia adalah salah satu jenis gangguan mata yang dapat muncul sesekali, tetapi juga dapat menetap apabila tidak segera ditangani secara medis. Untuk mengenali kondisi ini lebih jauh, simak pembahasan mengenai penyebab, gejala, jenis, hingga cara menanganinya dalam pembahasan berikut!
Apa Itu Eksotropia?
Eksotropia adalah salah satu jenis mata juling (strabismus) yang ditandai dengan posisi salah satu atau kedua mata mengarah ke luar. Kondisi ini terjadi ketika kedua mata tidak dapat mempertahankan arah pandangan yang sejajar saat melihat suatu objek.
Pergeseran mata pada strabismus eksotropia tidak selalu terjadi secara terus-menerus. Pada sebagian pasien, kondisi ini hanya muncul pada waktu tertentu, misalnya saat merasa lelah, mengantuk, atau kesulitan mempertahankan fokus.
Kondisi ini dapat muncul sejak masa kanak-kanak maupun berkembang pada masa dewasa. Frekuensi kemunculan dan derajat pergeseran mata dapat berbeda pada setiap pasien.
Jenis-Jenis Eksotropia
Eksotropia dapat dibedakan berdasarkan pola kemunculan, waktu terjadinya, serta kondisi penglihatan yang menyertainya. Setiap jenis memiliki karakteristik yang berbeda. Berikut penjelasannya:
1. Eksotropia Intermiten
Eksotropia intermiten terjadi ketika salah satu atau kedua mata sesekali bergerak ke arah luar. Kondisi ini dapat muncul dalam situasi tertentu, seperti saat anak merasa lelah, mengantuk, sakit, atau kesulitan mempertahankan fokus.
2. Eksotropia Konstan
Pada eksotropia konstan, salah satu atau kedua mata mengarah ke luar secara terus-menerus. Berbeda dengan eksotropia intermiten, posisi mata pada kondisi ini tidak kembali sejajar pada situasi tertentu. Kondisi tersebut dapat membuat mata yang mengarah ke luar terlihat lebih jelas dalam kehidupan sehari-hari.
3. Eksotropia Sensorik
Eksotropia sensorik dapat terjadi ketika penglihatan pada salah satu mata mengalami penurunan yang cukup berat. Ketika kemampuan melihat salah satu mata berkurang, koordinasi kedua mata dapat terganggu sehingga mata tersebut berisiko bergeser ke arah luar.
4. Eksotropia Konsekutif
Eksotropia konsekutif dapat terjadi setelah pasien menjalani operasi untuk menangani esotropia, yaitu kondisi ketika salah satu atau kedua mata mengarah ke dalam. Setelah operasi, kesejajaran mata dapat berubah sehingga mata justru bergeser ke arah luar.
Baca juga: Apa Itu Neuromyelitis Optica? Kenali Gejala dan Berbagai Penyebabnya!
Apa Penyebab Eksotropia?
Eksotropia dapat terjadi akibat berbagai kondisi yang memengaruhi koordinasi gerakan dan kemampuan kedua mata untuk bekerja secara bersamaan. Beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan munculnya eksotropia, antara lain:
- Faktor genetik.
- Gangguan koordinasi dan kontrol gerakan kedua mata.
- Kelainan pada sistem saraf yang memengaruhi gerakan mata.
- Insufisiensi konvergensi, yaitu kondisi ketika kedua mata sulit bergerak dan tetap mengarah ke dalam secara bersamaan saat melihat objek dekat.
- Penurunan penglihatan yang berat pada salah satu mata, misalnya akibat katarak atau penyakit retina.
Faktor Risiko Eksotropia
Selain penyebab yang mendasarinya, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami eksotropia. Faktor-faktor tersebut antara lain:
- Kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah.
- Gangguan neurologis.
- Variasi genetik.
- Riwayat keluarga dengan strabismus.
- Kelainan refraksi, seperti mata minus (miopia) dan mata silinder (astigmatisme), yang tidak dikoreksi.
- Paparan asap rokok, alkohol, atau zat tertentu selama kehamilan.
Bagaimana Gejala Eksotropia?
Gejala eksotropia dapat terlihat dari perubahan posisi mata maupun gangguan penglihatan yang menyertainya. Beberapa gejala yang dapat muncul umumnya meliputi:
- Salah satu mata tampak mengarah ke luar, baik sesekali maupun terus-menerus.
- Penglihatan ganda (diplopia).
- Mata terasa lelah atau tegang, terutama saat membaca atau melihat objek dekat.
- Sakit kepala, terutama setelah beraktivitas menggunakan penglihatan dalam waktu lama.
- Sering memicingkan atau menutup salah satu mata saat berada di bawah sinar matahari yang terang.
- Penglihatan kabur.
Baca juga: Gejala Meibomian Gland Dysfunction dan Cara Efektif Mengatasinya
Diagnosis Eksotropia
Untuk memastikan eksotropia, dokter mata akan melakukan anamnesis (wawancara medis) terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan mata secara menyeluruh. Anamnesis bertujuan untuk mengetahui keluhan yang dialami pasien, kapan mata mulai terlihat mengarah ke luar, seberapa sering kondisi tersebut terjadi, serta riwayat gangguan mata dalam keluarga.
Setelah itu, dokter akan memeriksa posisi dan pergerakan kedua mata untuk mengecek kesejajaran mata. Pemeriksaan ini juga membantu dokter mengetahui apakah penyimpangan terjadi pada satu atau kedua mata, serta apakah eksotropia muncul secara terus-menerus atau hanya pada kondisi tertentu.
Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan ketajaman penglihatan, refraksi, serta fungsi penglihatan binokular. Pemeriksaan tersebut membantu menilai kemampuan penglihatan masing-masing mata sekaligus menilai apakah terdapat kelainan refraksi atau gangguan lain yang berkaitan dengan eksotropia.
Risiko Komplikasi Eksotropia
Eksotropia yang tidak ditangani dapat semakin memburuk seiring waktu. Mata yang sebelumnya hanya sesekali bergerak ke arah luar dapat mengalami pergeseran yang semakin sering hingga akhirnya menjadi permanen.
Keluhan yang muncul juga dapat berbeda pada setiap pasien, bergantung pada kapan eksotropia mulai terjadi dan seberapa baik mata dalam mengendalikan pergeseran tersebut. Beberapa pasien dapat mengalami sakit kepala, mata cepat lelah, hingga penglihatan kabur.
Jika kemampuan kedua mata untuk bekerja sama semakin terganggu, penderita dapat mengalami kesulitan memperkirakan jarak dan kedalaman suatu objek. Pada anak-anak, gangguan perkembangan penglihatan juga dapat meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.
Cara Menangani Eksotropia
Penanganan eksotropia disesuaikan dengan jenis, tingkat keparahan, frekuensi pergeseran mata, serta kemampuan kedua mata untuk bekerja sama. Nantinya, dokter mata akan menentukan pilihan terapi berdasarkan hasil pemeriksaan serta kondisi masing-masing pasien.
Adapun beberapa pilihan penanganan yang umumnya dilakukan meliputi:
- Menutup salah satu mata: Dokter dapat menyarankan penggunaan penutup mata pada mata yang memiliki penglihatan lebih baik. Cara ini bertujuan melatih mata yang lebih lemah agar dapat digunakan secara optimal.
- Tetes mata: Pada kondisi tertentu, tetes mata dapat digunakan sebagai bentuk terapi dengan tujuan yang serupa dengan penutupan mata. Dokter dapat memberikan obat tetes pada mata yang penglihatannya lebih baik. Obat ini membuat penglihatan mata tersebut sementara menjadi buram sehingga mata yang lebih lemah lebih banyak digunakan. Penggunaannya harus sesuai dengan anjuran dokter mata.
- Kacamata atau lensa korektif: Apabila pasien memiliki kelainan refraksi, dokter bisa merekomendasikan penggunaan kacamata atau lensa kontak. Koreksi penglihatan membantu mata melihat lebih jelas dan mendukung koordinasi kedua mata.
- Terapi penglihatan: Terapi penglihatan melibatkan latihan tertentu untuk membantu meningkatkan kemampuan mata dalam berkoordinasi dan mempertahankan fokus. Terapi ini dapat dipertimbangkan pada pasien dengan insufisiensi konvergensi.
- Tindakan operasi: Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan operasi untuk memperbaiki kesejajaran mata. Prosedur dilakukan dengan menyesuaikan otot mata, seperti mengencangkan atau mengendurkan otot pada salah satu atau kedua mata.
Mata yang sesekali atau terus-menerus mengarah ke luar dapat menjadi tanda eksotropia. Terlebih jika kondisi disertai penglihatan ganda, mata mudah lelah, atau kesulitan mempertahankan fokus. Maka, pemeriksaan mata sebaiknya dilakukan sejak dini untuk mengetahui kondisi yang mendasarinya.
Dari pemeriksaan tersebut, dokter dapat menilai sejauh mana mata mengalami pergeseran, bagaimana pergerakannya, serta kemampuan kedua mata untuk bekerja sama. Hasilnya menjadi dasar untuk menentukan apakah kondisi tersebut cukup dipantau atau memerlukan penanganan lebih lanjut.
Untuk mendapatkan pemeriksaan yang lebih terarah, Anda dapat mengunjungi Children’s Eye & Strabismus Center di JEC Eye Hospitals and Clinics. Layanan ini berfokus pada masalah mata juling pada anak, dengan pemeriksaan posisi dan pergerakan mata yang komprehensif serta dukungan tim multidisipliner apabila diperlukan.
Jangan biarkan perubahan posisi mata pada anak Anda berlalu tanpa pemeriksaan. Mulailah dengan menemukan dokter yang sesuai, lalu konsultasikan kondisinya kepada dokter spesialis mata di JEC Eye Hospitals and Clinics.
Baca juga: Mengenal Otot Penggerak Bola Mata dari Bagian dan Jenis Gangguannya


ENG