Mengenal Otot Penggerak Bola Mata dari Bagian & Gangguannya
Pernahkah Anda menyadari bahwa mata dapat bergerak ke atas, ke bawah, dan berputar tanpa diikuti oleh gerakan kepala? Hal ini mungkin tampak sederhana, tetapi nyatanya melibatkan koordinasi berbagai otot penggerak bola mata.
Setiap otot memiliki fungsi dan persarafan yang spesifik, namun berkoordinasi untuk mempertahankan kesejajaran mata dan membentuk gerakan yang presisi. Jika fungsi otot-otot ini terganggu, ada beberapa kondisi serius yang perlu diwaspadai. Pahami penjelasan lengkapnya berikut ini!
Apa Itu Otot Penggerak Bola Mata?
Otot penggerak bola mata atau otot ekstraokular adalah otot rangka khusus yang berada di sekitar bola mata dan berperan dalam mengendalikan gerakan bola mata serta kelopak mata. Otot-otot ini memungkinkan mata bergerak secara tepat sehingga pandangan dapat mengikuti sebuah objek dan kedua mata tetap sejajar.
Gerakan mata yang dihasilkan oleh otot ekstraokular dapat berupa duksi (gerakan satu mata ke arah tertentu), versi (gerakan kedua mata secara bersamaan ke arah yang sama), dan torsi (gerakan memutar bola mata pada sumbu visualnya).
Bagian-Bagian Otot Penggerak Bola Mata
Otot penggerak bola mata terdiri atas empat otot rectus dan dua otot oblique yang bekerja sama mengatur berbagai arah gerakan bola mata.
Otot rectus meliputi medial rectus dan lateral rectus yang mengatur gerakan horizontal, serta superior rectus dan inferior rectus yang mengatur gerakan vertikal. Sementara itu, otot oblique meliputi superior oblique dan inferior oblique yang menghasilkan gerakan torsional atau memutar bola mata. Berikut penjelasan masing-masing otot:
1. Medial Rectus (MR)
Fungsi utama medial rectus adalah menggerakkan bola mata ke arah hidung. Otot ini dikendalikan oleh oculomotor nerve atau saraf kranial III (CN III).
Medial rectus bermula dari bagian medial annulus of Zinn (struktur berbentuk cincin yang berada di bagian paling belakang rongga mata), kemudian memanjang ke depan dan melekat pada sklera (bagian putih pada mata) sekitar 5,5 mm dari limbus (batas antara kornea dan sklera).
Jika dibandingkan dengan tiga otot rectus lainnya, medial rectus memiliki tendon yang paling pendek, yaitu sekitar 4,5 mm. Otot ini juga menjadi satu-satunya otot rectus yang tidak memiliki otot oblique yang berjalan secara tangensial terhadapnya.
2. Lateral Rectus (LR)
Lateral rectus adalah otot yang berfungsi menggerakkan bola mata ke arah luar atau menjauhi hidung. Otot ini mendapat persarafan dari abducens nerve atau saraf kranial VI. Lateral rectus berasal dari bagian lateral annulus of Zinn dan melekat pada sklera sekitar 6,9 mm dari limbus.
Area kontaknya dengan permukaan bola mata terbilang paling lebar, yaitu sekitar 12 mm, namun lebarnya paling tipis, yaitu sekitar 9,2 mm.
Baca juga: Ketahui Penyebab Tekanan Bola Mata Tinggi dan Pengobatannya!
3. Superior Rectus
Superior rectus merupakan otot yang berfungsi menggerakkan bola mata ke arah atas, memutarnya ke arah dalam, dan menggerakkannya ke arah hidung.
Sama seperti medial rectus, superior rectus juga memperoleh persarafan dari saraf kranial III. Otot ini berasal dari bagian superior annulus of Zinn dan melekat pada sklera sekitar 7,7 mm dari limbus. Superior rectus berhubungan dengan levator palpebrae superioris yang berada di atasnya serta superior oblique yang terletak di antara superior rectus dan sklera.
4. Inferior Rectus (IR)
Otot rectus keempat adalah inferior rectus yang fungsinya menggerakkan bola mata ke arah bawah, memutarnya ke arah luar, dan menggerakkannya ke arah hidung. Otot ini memperoleh persarafan dari saraf kranial III. Bermula dari bagian inferior annulus of Zinn, inferior rectus kemudian melekat pada sklera sekitar 6,5 mm dari limbus.
IR memiliki hubungan yang kuat dengan otot yang membantu menarik kelopak mata bawah. Jadi, tindakan operasi seperti memendekkan atau memundurkan inferior rectus dapat memengaruhi bentuk kelopak mata bawah sehingga tampak lebih sempit atau lebih lebar.
5. Superior Oblique
Berbeda dengan empat otot sebelumnya yang masuk kategori otot rectus, superior oblique ini masuk kategori otot oblique. Fungsinya adalah memutar bola mata ke arah dalam (incyclotorsion) serta menggerakkannya ke bawah dan ke arah luar.
Dibandingkan dengan otot ekstraokular lainnya, superior oblique adalah otot terpanjang dan satu-satunya otot yang dipersarafi oleh saraf kranial IV (trochlear nerve/CN IV).
6. Inferior Oblique
Inferior oblique merupakan otot yang berperan dalam memutar bola mata ke arah luar (excyclotorsion) serta menggerakkannya ke atas dan ke arah luar. Otot ini mendapat persarafan dari saraf kranial III.
Secara klinis, aktivitas berlebihan dari inferior oblique dapat berkaitan dengan beberapa jenis strabismus (mata juling) bawaan. Serabutnya juga memiliki hubungan yang sangat dekat dengan lateral rectus. Jadi, apabila dilakukan operasi pada lateral rectus, inferior oblique perlu dipisahkan dengan hati-hati agar tidak tertarik atau rusak.
Baca juga: Fungsi Otot Siliaris pada Mata: Kunci Penglihatan Tetap Fokus
Gangguan Mata Terkait Otot Penggerak Bola Mata
Otot penggerak bola mata dapat mengalami gangguan yang berdampak pada penglihatan. Berikut beberapa gangguan yang umum terjadi pada otot penggerak bola mata:
1. Cranial Nerve Palsy
Cranial nerve palsy adalah gangguan ketika salah satu saraf kranial tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Dalam konteks yang berkaitan dengan nervus bola mata, saraf kranial yang berperan dalam mengatur pergerakan bola mata adalah CN III, IV, dan VI. Gangguan ini membuat penderita sulit menggerakkan mata, matanya tidak sejajar, atau mengalami penglihatan ganda.
Cranial nerve palsy dapat terjadi sejak lahir, namun juga dapat disebabkan oleh cedera, hipertensi, diabetes, stroke, infeksi, sakit kepala berat, atau tumor. Sebagian kondisi cranial nerve palsy dapat membaik dengan sendirinya. Namun, jika tidak membaik, umumnya dokter menyarankan penggunaan kacamata khusus atau operasi pada otot mata.
Berikut adalah beberapa jenis gangguan cranial nerve palsy yang berkaitan dengan otot penggerak bola mata:
- Oculomotor nerve palsy: Kondisi saat saraf okulomotor mengalami gangguan fungsi. Saraf okulomotor sendiri sebenarnya merupakan saraf kranial III, yaitu salah satu saraf penggerak bola mata yang mengendalikan otot medial rectus, superior rectus, inferior rectus, dan inferior oblique. Jadi, gangguan pada saraf ini dapat menyebabkan mata sulit bergerak secara normal, penglihatan ganda, dan kesulitan menggunakan kedua mata secara bersamaan.
- Trochlear nerve palsy: Gangguan pada trochlear nerve atau saraf kranial IV yang menyebabkan kelemahan otot superior oblique. Penyebabnya bisa berupa trauma kepala, gangguan pembuluh darah, kondisi kongenital (sudah ada sejak lahir), hipertensi, atau kondisi lain.
- Abducens nerve palsy: Gangguan ini terjadi pada saraf abdusen (abducens nerve/CN VI) yang menyebabkan kelemahan pada lateral rectus. Ketika CN VI terganggu, mata pada sisi yang terkena sulit bergerak ke arah luar sehingga dapat menyebabkan mata menyimpang ke dalam dan penglihatan ganda secara horizontal.
2. Strabismus (Mata Juling)
Mata juling atau strabismus terjadi ketika kedua mata tidak sejajar sehingga keduanya tidak mengarah ke objek yang sama secara bersamaan. Kondisi ini dapat terjadi pada satu atau kedua mata dan menyebabkan gangguan penglihatan, seperti ambliopia (mata malas), penglihatan ganda, serta hilangnya penglihatan binokular.
Strabismus bisa disebabkan oleh beberapa kemungkinan, di antaranya rabun dekat yang tidak diperbaiki, gangguan saraf, dan patah tulang rongga mata. Ada beberapa pilihan penanganan untuk gangguan ini, di antaranya terapi ambliopia, intervensi ortoptik, dan operasi otot ekstraokular.
3. Horner Syndrome
Gangguan mata terakhir yang tergolong sebagai gangguan pada otot penggerak bola mata adalah Horner syndrome. Gangguan ini terjadi akibat terganggunya persarafan simpatis yang menuju ke mata. Tiga tanda klasik dari Horner syndrome yaitu ptosis ringan (kelopak mata atas sedikit turun), miosis (pupil mengecil), dan anhidrosis (berkurangnya atau tidak adanya keringat).
Jalur saraf simpatis menuju mata cukup panjang sehingga kerusakan dapat terjadi di berbagai lokasi. Penyebabnya bisa mencakup migrain, multiple sclerosis, tumor sumsum tulang belakang, aneurisma, cedera kepala, atau tumor di bagian atas paru-paru.
Sekian penjelasan mengenai otot penggerak bola mata yang bagian-bagiannya saling berkoordinasi untuk mengatur berbagai gerakan mata. Gangguan pada saraf yang mengendalikan otot-otot tersebut bisa memengaruhi penampilan, bahkan ada beberapa kondisi yang berkaitan dengan penyakit sistemik serius dan kanker paru-paru.
Untuk itu, jika Anda mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, manfaatkan layanan Pemeriksaan Mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics.
Layanan di JEC Eye Hospitals and Clinics ini melibatkan alat pemeriksaan modern sehingga dapat menilai kondisi mata dengan lebih akurat. Tak hanya itu, kami juga memastikan bahwa Anda ditangani langsung oleh dokter spesialis mata yang berpengalaman. Langkah ini menjadi awal yang baik untuk mencegah gangguan penglihatan yang berisiko menghambat aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Baca juga: Operasi Saraf Mata: Jenis dan Kondisi yang Membutuhkannya


ENG