Apa Penyebab Mata Plus di Usia Muda? Inilah Jawabannya!>
Mata plus, yang dikenal juga sebagai rabun dekat (hipermetropi/hiperopia), adalah kondisi di mana mata tidak dapat fokus dengan baik pada objek jarak dekat. Kondisi ini dipercaya sering terjadi pada orang tua atau lansia. Namun, mata plus sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada anak-anak dan remaja.
Lantas apa penyebab mata plus di usia muda? Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya mata plus pada anak-anak atau remaja, salah satunya adalah faktor genetik. Untuk mengetahui penjelasan lebih lengkap, simak artikel berikut hingga tuntas.
Seberapa Sering Mata Plus Terjadi di Usia Muda?
Mata plus (rabun dekat) adalah kelainan refraksi yang dapat ditemukan pada bayi, anak-anak, dan remaja. Adapun prevalensi atau tingkat kejadian rabun dekat di usia muda bergantung pada rentang usianya karena kondisi mata anak berkembang seiring bertambahnya usia.
Sebuah studi dalam Community Eye Health Journal (2024) menyebutkan bahwa diperkirakan rata-rata sekitar 4,6% anak-anak di seluruh dunia mengalami hiperopia yang signifikan secara klinis. Tingkat prevalensi terendah, yaitu sekitar 2,2% ditemukan di Asia Tenggara dan prevalensi tertinggi sekitar 14,3% di Benua Amerika.
Studi lain di kawasan Mediterania Timur yang diterbitkan dalam Saudi Journal of Ophthalmology (2024) juga menemukan angka yang tak jauh berbeda, yakni sebesar 5,72% pada anak usia 5–10 tahun dan menurun menjadi 3,23% pada usia 11–17 tahun.
Penurunan ini berkaitan dengan perkembangan mata selama masa pertumbuhan, karena hipermetropi yang muncul sejak kecil dapat berkurang seiring bola mata memanjang dan berkembang.
Penyebab Mata Plus di Usia Muda
Terdapat berbagai penyebab mata plus pada anak yang biasanya dikaitkan dengan faktor genetik dan perkembangan anak. Berikut adalah beberapa faktor penyebabnya.
1. Perkembangan Alami Mata yang Belum Sempurna
Sebagian besar bayi dan anak kecil dilahirkan dengan derajat hipermetropi fisiologis karena ukuran dan komponen optik matanya belum berkembang. Namun, seiring pertumbuhan anak, mata mengalami proses emetropisasi, yakni penyempurnaan bentuk bola mata secara alami agar fokus cahaya jatuh tepat di retina dan menghasilkan penglihatan yang tajam.
Sementara itu, apabila derajatnya cukup tinggi atau menetap, kondisi tersebut dapat membutuhkan pemantauan maupun koreksi sesuai hasil pemeriksaan dokter mata. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan mata secara rutin guna mendeteksi gangguan refraksi pada anak sejak dini.
2. Bola Mata Terlalu Pendek
Salah satu penyebab mata plus di usia muda adalah panjang bola matadari depan ke belakang yang lebih pendek. Kondisi ini dikenal sebagai axial hyperopia. Akibat bola mata yang terlalu pendek, cahaya yang masuk tidak bisa jatuh tepat di retina, melainkan terfokus di belakangnya. Inilah yang membuat objek berjarak dekat terlihat kabur.
Pada anak-anak dan remaja, kondisi ini erat kaitannya dengan faktor genetik serta proses emetropisasi. Para peneliti menemukan bahwa beberapa gen berperan dalam perkembangan mata, terutama dalam menentukan panjang bola mata dari depan ke belakang.
Meski belum ada satu gen tertentu yang menjadi penyebab utama mata plus, kombinasi faktor genetik ini dapat memengaruhi pertumbuhan mata. Jika proses emetropisasi terganggu atau terhenti akibat pengaruh tersebut dan bola mata tetap pendek, rabun dekat akan terus berlanjut hingga dewasa.
3. Daya Bias Kornea atau Lensa Mata Kurang Kuat
Kornea merupakan bagian bening di bagian depan mata yang berfungsi membiaskan cahaya agar dapat difokuskan ke retina. Namun, pada kondisi tertentu, kornea memiliki bentuk yang lebih datar dari normal sehingga daya biasnya menjadi lebih lemah.
Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tidak cukup dibelokkan untuk fokus tepat pada retina dan justru cenderung terfokus di belakang retina. Kondisi inilah yang kemudian dapat menyebabkan mata plus.
4. Faktor Keturunan
Hipermetropi sangat dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika salah satu atau kedua orang tua memiliki riwayat hipermetropi atau kelainan refraksi lainnya, risiko anak mengalami kondisi serupa jauh lebih tinggi.
Baca juga: Perbedaan Mata Minus dan Mata Plus Serta Pengobatannya!
5. Berkaitan dengan Kondisi Mata atau Kelainan Genetik Tertentu
Pada kasus mata plus tingkat berat (high hyperopia) di usia dini, kondisi ini terkadang berhubungan dengan kelainan genetik yang lebih kompleks, seperti:
- Microphthalmia: Kondisi genetik di mana satu atau kedua bola mata berukuran lebih kecil dari normal.
- Aniridia: kelainan mata langka yang ditandai dengan tidak adanya atau berkurangnya sebagian/seluruh iris (bagian mata yang berwarna).
- Down syndrome atau Fragile X syndrome: Sering disertai dengan gangguan perkembangan anatomi mata.
Ciri-Ciri Mata Plus di Usia Muda
Mata plus pada anak cukup sulit dikenali karena anak-anak memiliki kemampuan akomodasi (kemampuan otot mata untuk berkonsentrasi/memfokuskan objek) yang sangat kuat. Mereka sering kali tetap bisa melihat dengan jelas, tetapi harus mengerahkan usaha ekstra yang memicu rasa tidak nyaman.
Berikut adalah beberapa ciri atau gejala mata plus pada anak yang perlu diwaspadai:
- Sering menggosok mata atau menyipitkan satu mata: Anak berusaha memfokuskan bayangan objek agar tidak berbayang.
- Memegang buku/gawai terlalu dekat atau terlalu jauh: Sebagian anak menjauhkan objek untuk mempermudah fokus, tetapi ada juga yang justru mendekatkannya karena bayangan terlihat lebih besar meski buram.
- Menghindari aktivitas jarak dekat: Anak cepat bosan, enggan membaca, mewarnai, atau mengerjakan PR karena membuat matanya lelah.
- Sering kehilangan jejak saat membaca: Sering melompati baris kata atau harus menggunakan jari untuk menuntun bacaan.
- Sakit kepala atau mata lelah: Terutama pada sore hari atau setelah beraktivitas yang membutuhkan fokus jarak dekat (membaca/menulis).
- Mata merah, berair, atau sensitif terhadap cahaya: Terjadi akibat ketegangan otot mata (eye strain) secara terus-menerus.
- Memicu mata juling (strabismus): Karena anak berusaha memfokuskan pandangan terlalu keras, mata bisa tertarik ke arah dalam (accommodative esotropia).
Baca juga: Mata Buram Sebelah: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya
Demikian penjelasan mengenai penyebab mata plus di usia muda, lengkap dengan ciri-ciri yang perlu diwaspadai. Rabun dekat pada anak mungkin sering kali sulit dideteksi sejak awal karena kemampuan akomodasi mereka yang kuat.
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk melakukan pemeriksaan mata rutin pada anak-anak, terutama jika terdapat riwayat kelainan refraksi dalam keluarga. Untuk itu, Anda bisa menggunakan layanan Pemeriksaan Mata di JEC Eye Hospitals and Clinics untuk mendapatkan diagnosis pasti.
Deteksi sedini mungkin sangat penting untuk mencegah komplikasi, seperti mata juling, dan memastikan pengobatan yang tepat. Jika anak sudah berusia 18 tahun, dokter dapat merekomendasikan tindakan LASIK untuk mengoreksi gangguan refraksi tersebut agar penglihatan anak kembali jernih sehingga bisa terbebas dari kacamata atau lensa kontak.
Jadi, pastikan kesehatan mata anak terjaga karena penglihatan yang jernih adalah kunci utama untuk mendukung tumbuh kembang dan aktivitas harian anak secara optimal.
Baca juga: LASIK Mata Plus: Prosedur & Bedanya dengan LASIK Mata Minus


ENG