Bell’s Palsy: Penyebab, Pengaruhnya pada Mata, & Perawatannya
Di balik sebuah ekspresi wajah, ada senyuman dan kedipan mata yang terbentuk karena koordinasi saraf-saraf wajah. Namun, ada kondisi yang membuat salah satu sisi wajah tidak dapat mengikuti perintah dan berakhir dengan senyuman yang tidak simetris. Kondisi ini disebut Bell’s palsy.
Sebenarnya, apa penyebab Bell’s palsy dan apa pengaruhnya terhadap kondisi mata? Bagaimana pula cara merawat mata yang terserang Bell’s palsy? Simak penjelasannya hingga tuntas untuk memahami kondisi ini dengan lebih mendalam!
Apa Itu Bell's Palsy?
Bell’s palsy adalah kondisi ketika saraf wajah (nervus facialis/saraf kranial VII) mengalami gangguan sehingga otot-otot pada satu sisi wajah menjadi lemah atau lumpuh sementara. Akibatnya, bagian wajah yang terkena kondisi ini bisa turun, sulit tersenyum, sulit mengangkat alis, atau sulit menutup mata.
Bell’s palsy dapat terjadi pada usia 15–60 tahun, dengan usia rata-rata saat muncul sekitar 40 tahun. Frekuensi kejadiannya relatif sama pada laki-laki dan perempuan.
Penyebab Bell's Palsy
Penyebab Bell’s palsy sebenarnya belum diketahui. Namun, diduga bahwa kondisi ini dapat disebabkan oleh peradangan pada nervus facialis, yaitu saraf yang mengontrol gerakan otot wajah. Di samping itu, ada pula beberapa kondisi yang kadang dikaitkan dengan Bell’s palsy, yaitu:
- Infeksi.
- Diabetes.
- Tekanan darah tinggi.
- Paparan toksin (zat beracun) tertentu.
- Guillain-Barré syndrome (gangguan ketika sistem imun menyerang sistem saraf perifer).
- Lyme disease (infeksi bakteri yang ditularkan melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan gangguan saraf).
- Sarkoidosis (penyakit peradangan yang dapat menyebabkan terbentuknya kumpulan sel inflamasi pada berbagai organ, termasuk saraf).
Pengaruh Bell's Palsy pada Mata
Bell’s palsy dapat menyebabkan mata sulit tertutup. Namun, perlu diketahui bahwa nervus facialis tidak mengendalikan otot yang membuka kelopak mata. Jadi, penderita Bell’s palsy hanya kesulitan menutup mata, tetapi tetap bisa membukanya dengan normal.
Idealnya, mata berkedip secara teratur untuk menyebarkan lapisan air mata ke seluruh permukaan mata. Ketika kelopak mata tidak dapat menutup sempurna akibat Bell’s palsy, penyebaran air mata dapat terganggu sehingga permukaan mata lebih mudah mengering dan lebih rentan terhadap infeksi.
Baca juga: Infeksi Mata: Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya
Komplikasi Mata yang Dapat Terjadi Akibat Bell's Palsy
Bell’s palsy dapat menimbulkan beberapa komplikasi. Berikut adalah beberapa komplikasi yang umumnya terjadi:
1. Exposure Keratopathy
Exposure keratopathy adalah kerusakan kornea karena mata tidak dapat menutup secara sempurna sehingga lebih lama terpapar udara dan mengalami kekeringan parah. Penanganan konservatif (nonbedah) atau tanpa operasi biasanya bertujuan untuk mencegah kondisi ini.
Tujuan utama dari penanganan nonbedah ini adalah untuk membasahi permukaan mata, melindungi kornea dari penguapan air mata, dan mencegah komplikasi infeksi akibat penutupan kelopak mata yang tidak sempurna.
Contoh penanganannya adalah pemakaian air mata buatan, eyelid taping (perekatan kelopak mata), atau antibiotik topikal. Pemberian penanganan didasarkan pada kondisi masing-masing pasien.
2. Synkinesis
Synkinesis merupakan salah satu komplikasi yang cukup khas setelah saraf wajah mengalami kelumpuhan dan mengalami regenerasi. Jadi, ketika penderita secara sadar menggerakkan satu bagian wajah, bagian wajah lain ikut bergerak tanpa disengaja.
Hal tersebut bisa terjadi karena saat saraf kranial VII mengalami regenerasi, sebagian serabut saraf dapat terhubung ke jalur otot yang tidak sesuai dengan jalur semula. Serabut saraf yang sedang tumbuh kembali salah menyambung ke kelompok otot wajah yang berbeda dari fungsi aslinya.
Akibatnya, satu perintah saraf dapat menghasilkan beberapa gerakan sekaligus. Misalnya, saat penderita mencoba menutup mata, sudut mulut ikut bergerak.
3. Hemifacial Spasm
Hemifacial spasm adalah kontraksi atau kedutan otot yang tidak disengaja pada satu sisi wajah. Misalnya, kelopak mata berkedut dan sudut mulut tertarik terjadi sekaligus pada satu sisi wajah.
Hemifacial spasm bisa muncul sebagai bagian dari post-facial paralytic syndrome, yaitu kumpulan masalah yang dapat terjadi setelah penderita mengalami kelumpuhan saraf wajah dan menjalani proses pemulihan saraf.
4. Facial Asymmetry
Komplikasi terakhir yang dapat muncul akibat Bell’s palsy adalah facial asymmetry. Pada kondisi ini, wajah menjadi tidak simetris antara sisi kanan dan kiri. Sebagian penderita tak hanya merasakan kondisi ini mengganggu fungsi wajah, tetapi juga mengubah penampilan secara signifikan.
Bagaimana Diagnosis Bell's Palsy?
Untuk menegakkan diagnosis Bell’s palsy, dokter terlebih dahulu akan melakukan anamnesis atau wawancara medis untuk mengetahui keluhan yang dialami, kapan gejala muncul, riwayat penyakit mata, riwayat kesehatan, serta riwayat Bell’s palsy dalam keluarga.
Selanjutnya, dokter biasanya memeriksa gerakan wajah dan fungsi saraf wajah. Jika pola gejalanya sesuai, dokter dapat mencurigai adanya Bell’s palsy. Jadi, tidak ada tes khusus yang secara langsung bisa memastikan kondisi ini.
Meskipun demikian, dokter mungkin melakukan pemeriksaan tambahan untuk mencari kondisi lain yang memiliki gejala serupa atau untuk mengetahui seberapa besar saraf wajah terganggu. Pemeriksaan tersebut antara lain:
- Electromyography (EMG): Ini merupakan prosedur pemeriksaan medis untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik di dalam otot serta saraf yang mengendalikannya. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar saraf kranial VII mengalami gangguan.
- Tes darah: Bertujuan untuk mencari penyakit lain yang mungkin menyebabkan kelumpuhan wajah atau meningkatkan kemungkinan penyebab tertentu, misalnya diabetes atau Lyme disease.
- MRI atau CT scan: Dilakukan untuk mencari tahu apakah ada penyebab struktural yang menyebabkan gangguan pada saraf wajah, misalnya kelainan pada otak atau saraf.
Dalam proses penegakan diagnosis Bell’s palsy, dokter biasanya juga perlu memastikan bahwa kelumpuhan wajah tidak disebabkan oleh stroke atau tumor. Pasalnya, kelemahan wajah yang terjadi pada penderita stroke dan tumor tampak mirip dengan Bell’s palsy dan keduanya membutuhkan penanganan yang berbeda.
Baca juga: Ciri-Ciri Tumor Mata: Penyebab dan Cara Mengobatinya
Cara Merawat Mata pada Penderita Bell's Palsy
Penderita Bell’s palsy bisa merawat mata mereka dengan cara-cara yang disarankan oleh dokter berikut ini:
1. Gunakan Air Mata Buatan secara Teratur
Air mata buatan (artificial tears) diberikan untuk menjaga permukaan mata tetap lembap dan membantu melindungi kornea akibat ketidakmampuan penutupan kelopak mata yang sempurna sebagai salah satu gejala Bell’s palsy. Pasien perlu menggunakan air mata buatan setidaknya setiap 2 jam pada siang hari atau sesuai dengan anjuran dokter.
Sebelum menggunakannya, pasien harus mencuci tangan dan mengocok botol artificial tears. Lalu, air mata buatan diteteskan pada bagian yang menyerupai kantong kecil di antara kelopak mata dan bola mata. Setelah menetes, tutup mata perlahan tanpa berkedip. Terakhir, berikan tekanan ringan pada saluran air mata di sudut mata dekat hidung selama sekitar 1–2 menit.
2. Oleskan Salep Mata sebelum Tidur
Obat Bell’s palsy pada malam hari biasanya berupa salep mata (lubricating ointment). Salep ini memiliki tekstur yang lebih kental sehingga dapat bertahan lebih lama di permukaan mata dan tetap melindungi selama tidur. Namun, teksturnya yang kental membuat penglihatan menjadi buram sesaat.
Jika dokter menyarankan pemakaian air mata buatan sekaligus salep mata, teteskan air mata buatan terlebih dahulu, lalu tunggu sekitar 3–5 menit sebelum mengoleskan salep mata.
3. Tutup Mata Saat Tidur Menggunakan Plester Khusus
Setelah menggunakan obat untuk Bell’s palsy sesuai anjuran dokter, pasien biasanya disarankan untuk menutup mata dengan plester khusus berbahan lembut (soft patch). Salah satu pilihan yang dapat digunakan adalah kasa mata katun steril (sterile cotton eye gauze pad).
Patch diletakkan di atas seluruh mata yang sudah tertutup, lalu direkatkan dengan selotip. Tempelkan selotip secara diagonal dari dahi, di atas sudut dalam mata, menuju pipi, di bawah sudut luar mata. Ingat, hindari menempelkannya langsung pada kelopak mata, ya.
4. Lindungi Mata saat Beraktivitas
Saat beraktivitas di siang hari, pasien Bell’s palsy tetap perlu melindungi mata dari kotoran, benda asing, angin, serta paparan sinar matahari yang terlalu terang. Ya, pada dasarnya angin bisa mempercepat penguapan air mata, sedangkan paparan cahaya yang kuat dapat memperparah ketidaknyamanan pada mata.
Oleh karena itu, pasien dapat menggunakan kacamata, kacamata hitam, penutup mata (eye patch), atau kacamata pelindung (goggles).
5. Berhati-Hati saat Mandi atau Keramas
Ketika mandi atau keramas, air, sabun, sampo, atau produk lainnya berisiko masuk langsung ke mata dan memperparah iritasi.
Untuk menghindari hal tersebut, penderita Bell’s palsy bisa mandi dengan membelakangi aliran air, menggunakan goggles atau face shield, serta membersihkan area sekitar mata di luar pancuran atau area mandi.
Kapan Perlu ke Dokter?
Jika Anda mengalami tanda-tanda Bell’s palsy seperti kelumpuhan atau kelemahan otot yang terjadi secara tiba-tiba pada salah satu sisi wajah, segera periksakan ke dokter. Dokter kemudian akan melakukan evaluasi lebih lanjut dan menyingkirkan kemungkinan lain seperti stroke.
Dokter kemudian akan memberikan pengobatan seperti steroid. Pengobatan dengan steroid bekerja paling baik jika dimulai dalam waktu 72 jam setelah gejala Anda muncul.
Bell’s palsy umumnya mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan sekitar 2 minggu. Namun, pemulihan untuk menormalkan kembali fungsi wajah dapat membutuhkan waktu lebih lama, yaitu sekitar 3–6 bulan.
Penderita Bell’s palsy dianjurkan untuk menghubungi dokter jika kondisinya tidak menunjukkan perbaikan, muncul gejala baru, atau gejalanya semakin memburuk. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan adalah nyeri atau iritasi mata, benda asing di dalam mata, sensitivitas terhadap cahaya, dan pembengkakan di sekitar mata.
Itulah penjelasan mengenai Bell’s palsy, kondisi mata yang tidak hanya berpengaruh pada penampilan atau ekspresi wajah, tetapi juga pada kesehatan mata. Meskipun umumnya dapat membaik, tetap perhatikan gejala yang mengindikasikan Bell’s palsy dan jaga kesehatan agar terhindar dari risiko gangguan ini.
Selain Bell’s palsy, ada gangguan lain yang berhubungan dengan saraf wajah dan mata, di antaranya glaukoma dan gangguan pergerakan mata. Jika Anda mengalami salah satunya, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan di JEC Hospitals and Clinics, khususnya di layanan Neuro-Oftalmologi.
Layanan JEC Eye Hospitals and Clinics ini membantu mendeteksi dan mengobati masalah penglihatan yang berkaitan dengan saraf mata. Semua prosedurnya dijalankan oleh dokter spesialis mata berpengalaman serta didukung oleh teknologi diagnostik yang canggih dan pelayanan profesional.
JEC Eye Hospitals and Clinics siap menjadi partner Anda dalam meningkatkan kualitas hidup melalui penglihatan yang optimal.
Baca juga: Ini Ciri-Ciri Gangguan Saraf Mata yang Tak Boleh Diabaikan


ENG