Apa Itu Distrofi Kornea? Inilah Penyebab & Penanganannya!>
Kornea berperan penting dalam membantu mata menangkap dan memfokuskan cahaya agar dapat melihat dengan jelas. Namun, ketika kornea mengalami gangguan, kualitas penglihatan pun bisa ikut terpengaruh. Salah satu kondisi yang dapat memengaruhi kornea adalah distrofi kornea, yang sering kali belum banyak dikenal oleh masyarakat.
Distrofi kornea merupakan sekelompok kondisi mata yang umumnya berkembang secara perlahan dan dapat memengaruhi satu atau kedua mata. Untuk memahami lebih jauh tentang distrofi kornea, mulai dari pengertian, penyebab, hingga penanganannya, simak artikel berikut ini.
Apa Itu Distrofi Kornea?
Distrofi kornea adalah istilah umum yang mencakup lebih dari 20 jenis penyakit mata yang menyerang kornea. Berbagai jenis distrofi kornea dapat menyebabkan perubahan atau kerusakan jaringan kornea sehingga cahaya tidak dapat masuk dan dibiaskan dengan baik. Jika kondisinya cukup parah, distrofi kornea dapat menyebabkan penurunan kualitas penglihatan.
Sebagian besar kasus distrofi kornea bersifat genetik, yang diakibatkan oleh perubahan atau mutasi DNA. Perubahan ini bisa diturunkan dari orang tua, muncul secara spontan, atau terjadi melalui mekanisme yang hingga kini belum sepenuhnya dipahami oleh para ahli.
Jenis-Jenis Distrofi Kornea
Distrofi kornea terbagi dalam beberapa jenis berdasarkan lapisan kornea yang terdampak. Berikut adalah jenis-jenis distrofi kornea.
Distrofi epitel dan subepitel:
- Epithelial basement membrane corneal dystrophy.
- Epithelial recurrent erosion dystrophies.
- Subepithelial mucinous corneal dystrophy.
- Meesmann corneal dystrophy atau disebut juga sebagai juvenile epithelial corneal dystrophy.
- Lisch epithelial corneal dystrophy.
- Gelatinous drop-like corneal dystrophy.
Sebagian besar distrofi kornea ini berkembang sejak masa kanak-kanak. Namun, ada dua pengecualian. Yang pertama adalah epithelial basement membrane corneal dystrophy, yang biasanya baru muncul saat dewasa, meskipun tidak selalu demikian. Sementara itu, gelatinous drop-like corneal dystrophy dapat terjadi kapan saja hingga seseorang berusia 20 tahun.
Distrofi epitel-stroma (masih termasuk dalam kelompok distrofi epitel dan subepitel):
- Granular corneal dystrophy (tipe I dan tipe II).
- Lattice corneal dystrophy (dengan beberapa subtipe).
- Reis-Bückler’s corneal dystrophy.
- Thiel-Behnke corneal dystrophy (juga dikenal sebagai honeycomb dystrophy).
Sebagian besar kondisi ini biasanya muncul sejak usia anak-anak. Akan tetapi, lattice corneal dystrophy tipe 1 dapat muncul hingga usia 20 tahun.
Distrofi stromal:
- Macular corneal dystrophy.
- Schnyder corneal dystrophy.
- Congenital stromal corneal dystrophy.
- Fleck corneal dystrophy.
- Posterior amorphous corneal dystrophy.
- Pre-Descemet corneal dystrophy.
- Central cloudy dystrophy of Francois.
Distrofi stromal umumnya mulai muncul sejak masa kanak-kanak. Namun, terdapat dua jenis yang dapat berkembang saat seseorang telah dewasa, yakni schnyder corneal dystrophy dan pre-descemet corneal dystrophy. Schnyder corneal dystrophy dapat muncul hingga usia sekitar 30 tahun, sedangkan pre-descemet corneal dystrophy biasanya berkembang setelah usia 30 tahun.
Distrofi kornea endotel:
- Fuchs endothelial corneal dystrophy.
- Posterior polymorphous corneal dystrophy.
- Congenital hereditary endothelial dystrophy.
- X-linked endothelial corneal dystrophy.
Di antara berbagai jenis distrofi kornea, Fuchs endothelial corneal dystrophy merupakan yang paling umum dijumpai.
Baca juga: Abrasi Kornea, Kenali Penyebab dan Cara Mengobatinya
Penyebab Distrofi Kornea
Semua bentuk distrofi kornea melibatkan faktor genetik. Perubahan gen tersebut dapat terjadi secara spontan atau diturunkan dari orang tua.
Sebagian perubahan genetik cukup diwarisi dari satu orang tua saja, sementara yang lain membutuhkan salinan gen dari kedua orang tua. Ada pula beberapa jenis distrofi kornea yang hingga kini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui perubahan genetik penyebabnya.
Faktor Risiko Distrofi Kornea
Sebagian besar distrofi kornea tidak dipengaruhi oleh ras atau jenis kelamin. Namun, terdapat satu pengecualian, yaitu Fuchs endothelial corneal dystrophy. Kondisi ini memiliki beberapa faktor risiko khusus, antara lain:
- Ras: Lebih sering terjadi pada orang kulit putih.
- Usia: Paling sering muncul pada usia di atas 30 tahun.
- Jenis kelamin: Lebih banyak dialami oleh perempuan.
Gejala Distrofi Kornea
Gejala distrofi kornea dapat berbeda-beda, tergantung jenis penyakitnya. Pada sebagian orang, kondisi ini tidak menimbulkan gejala apa pun. Namun pada kasus lain, penumpukan zat tertentu di kornea dapat membuat kornea menjadi keruh sehingga penglihatan tampak buram atau bahkan menurun.
Banyak penderita juga mengalami erosi kornea, yaitu kondisi ketika lapisan sel di permukaan kornea (epitel) terlepas dari lapisan di bawahnya. Erosi kornea dapat menimbulkan:
- Nyeri mata ringan hingga berat.
- Mata menjadi sensitif terhadap cahaya (fotofobia).
- Sensasi seperti terdapat benda asing di dalam mata.
Baca juga: Cara Mengatasi Mata Kelilipan: Pertolongan Pertama, dan Pencegahannya
Diagnosis Distrofi Kornea
Pemeriksaan diawali dengan anamnesis atau wawancara medis untuk menggali keluhan, riwayat kesehatan, riwayat penyakit dalam keluarga, serta faktor risiko yang mungkin berperan.
Kemudian, dokter akan melakukan pemeriksaan menggunakan slit lamp, yakni alat berupa mikroskop khusus yang memungkinkan dokter melihat bagian dalam mata secara detail, termasuk perubahan atau kerusakan pada kornea akibat distrofi kornea.
Selain itu, dokter mata juga dapat merekomendasikan beberapa pemeriksaan berikut:
- Topografi kornea, untuk memetakan permukaan kornea dan melihat adanya perubahan bentuk.
- Pachymetry, yaitu pemeriksaan ketebalan kornea yang membantu menilai gangguan pada lapisan kornea bagian dalam.
- Optical Coherence Tomography (OCT), pemeriksaan pencitraan yang dapat menampilkan struktur kornea secara detail dan membantu perencanaan terapi.
- Biopsi kornea, yaitu pengambilan sampel jaringan kornea untuk pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan ini jarang dilakukan, tetapi dapat membantu memastikan jenis distrofi kornea tertentu.
- Tes genetik, biasanya melalui sampel darah atau air liur untuk mengidentifikasi perubahan gen yang berkaitan dengan distrofi kornea.
Jenis pemeriksaan yang dibutuhkan dapat berbeda-beda, tergantung pada kondisi klinis pasien
Baca juga: Apa Itu Edema Kornea? Pahami Gejala dan Penanganannya
Komplikasi Distrofi Kornea
Menurut penelitian dari National Library of Medicine (2023), komplikasi distrofi kornea dapat terjadi jika kondisi ini tidak ditangani dengan baik. Pada kasus yang berat, gangguan penglihatan dapat memburuk secara bertahap hingga menyebabkan penurunan penglihatan yang signifikan. Erosi kornea juga dapat menimbulkan nyeri dan berisiko menyebabkan peradangan pada kornea akibat kebiasaan menggosok mata secara berlebihan.
Pengobatan Distrofi Kornea
Penanganan distrofi kornea tergantung pada jenis distrofi yang dialami dan seberapa berat gejalanya. Jika Anda tidak merasakan gejala, dokter mata mungkin hanya akan memantau kondisi mata secara berkala untuk melihat apakah penyakit berkembang. Pada kasus lain, pemberian obat tetes mata, salep, atau terapi laser mungkin diperlukan.
Banyak penderita distrofi kornea juga mengalami erosi kornea berulang. Kondisi ini dapat diatasi dengan:
- Antibiotik.
- Obat tetes mata.
- Salep mata.
- Softlens khusus yang melindungi kornea.
Jika erosi berlanjut, prosedur tambahan dapat dilakukan, seperti terapi laser atau pengikisan kornea.
Pada kasus yang lebih berat, transplantasi kornea (keratoplasti) mungkin diperlukan. Jaringan kornea yang rusak diganti dengan jaringan kornea donor yang sehat. Untuk distrofi endotel, seperti Fuchs endothelial corneal dystrophy, biasanya dilakukan transplantasi parsial kornea (endothelial keratoplasty).
Demikian penjelasan mengenai distrofi kornea, mulai dari definisi hingga pengobatannya. Dengan memahami kondisi ini, diharapkan Anda dan keluarga lebih waspada terhadap tanda-tanda awal distrofi kornea sehingga perawatan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Untuk memastikan kesehatan mata tetap terjaga, Anda dapat melakukan pemeriksaan mata secara rutin di rumah sakit atau klinik mata tepercaya, salah satunya adalah JEC Eye Hospitals and Clinics.
Melalui layanan Pemeriksaan Mata, dokter dapat memantau kondisi kornea, mendeteksi kelainan sejak dini, dan memberikan saran perawatan yang sesuai. Langkah ini membantu mencegah komplikasi dan menjaga kualitas penglihatan Anda dalam jangka panjang.
Baca juga: Ulkus Kornea: Penyebab, Gejala, Pengobatannya, & Waktu Penyembuhannya


ENG