Ini Fakta Lengkap Rabun Senja yang Perlu Anda Pahami

Oleh Tim Medis JEC

  30 Jan 2026

  43 Views

Share
Rabun senja

Apakah Anda sering merasa penglihatan memburuk saat senja, padahal normal di siang harinya? Jika ya, kondisi tersebut bisa menjadi gejala rabun senja, salah satu gangguan penglihatan yang tidak boleh dianggap ringan. 

 

Rabun senja yang tidak ditangani dengan tepat berisiko meningkatkan berbagai risiko kerusakan penglihatan, bahkan kebutaan. Artikel ini akan membantu Anda memahami rabun senja secara mendalam, mulai dari penyebab, gejala, pencegahan, hingga pengobatannya. Simak selengkapnya di bawah ini!

Apa Itu Rabun Senja?

Rabun senja atau nyctalopia adalah kondisi saat seseorang kesulitan melihat di tempat yang minim cahaya atau malam hari. Kondisi ini terjadi karena mata tidak mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan intensitas cahaya atau karena sel mata yang berperan menangkap cahaya tidak lagi bekerja optimal.

 

Contoh rabun senja dalam keseharian adalah sulit melihat kendaraan lain saat mengemudi di malam hari dan butuh waktu lama untuk menyesuaikan pandangan saat pindah dari area terang ke area gelap. Rabun senja sebenarnya bukan penyakit, melainkan gejala dari gangguan lain pada mata atau tubuh.

Penyebab Rabun Senja

Rabun senja bisa terjadi karena beberapa faktor tertentu. Secara garis besar, penyebab rabun senja dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu:

1. Cahaya Tidak Masuk Optimal ke Retina

Pada kondisi ini, cahaya terhambat melewati bagian mata sehingga tidak bisa mencapai retina secara optimal. Beberapa kondisi yang termasuk dalam kategori ini antara lain:

  • Glaukoma: Adanya tekanan pada mata yang merusak saraf optik, lalu mengganggu penglihatan, termasuk saat kondisi gelap.

  • Keratokonus: Kondisi saat kornea melemah dan menipis di bagian tengah sehingga bentuknya menjadi tidak teratur. Akibatnya, cahaya yang masuk mata tidak bisa difokuskan dengan baik ke retina.

  • Katarak: Lensa mata keruh sehingga menyulitkan cahaya untuk masuk.

2. Retina Tidak Bekerja dengan Baik

Cahaya sebenarnya sudah masuk ke mata, namun retina tidak mampu memproses cahaya dengan normal, terutama sel batang (rod cells) yang berperan dalam penglihatan malam hari. Berikut ini sejumlah kondisi yang termasuk dalam kategori kedua:

  • Kekurangan vitamin A: Kondisi ini kerap terjadi pada orang yang mengalami gangguan penyerapan nutrisi, salah satunya setelah menjalani operasi bariatrik sebagai usaha penurunan berat badan pada pasien obesitas.
  • Diabetic retinopathy: Kerusakan pembuluh darah retina akibat diabetes yang bisa memicu perdarahan retina dan gangguan fungsi sel retina.
  • Penyakit retina genetik yang langka: Misalnya cone-rod dystrophy, Retinitis Pigmentosa (RP), dan Congenital Stationary Night Blindness (CSNB).

Baca juga: Kenali Ciri-Ciri Retina Mata Bermasalah & Cara Mengatasinya

Gejala Rabun Senja

Sebenarnya, semua orang memang lebih sulit melihat dengan detail dalam kondisi minim cahaya. Namun, ciri-ciri rabun senja cenderung lebih berat dan spesifik. Berikut sejumlah gejala rabun senja yang umum terjadi:

  • Penglihatan buram atau berkabut pada kondisi cahaya rendah.
  • Kesulitan melihat objek dari jarak jauh, terutama saat malam hari.
  • Sulit memfokuskan penglihatan di tempat yang remang-remang.
  • Sulit melihat objek di samping tanpa menoleh.
  • Mata terasa tidak nyaman atau nyeri ketika terpapar cahaya terang.
  • Merasa tidak nyaman saat berpindah dari tempat terang ke gelap.
  • Sakit kepala dan mual karena mata terus berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi cahaya yang kurang optimal.

Diagnosis Rabun Senja

Untuk mendiagnosis rabun senja, biasanya dokter akan melakukan anamnesis atau wawancara medis. Tujuannya adalah mengetahui keluhan dan riwayat kesehatan pasien secara menyeluruh.

 

Salah satu tes yang kerap digunakan adalah tes sensitivitas kontras menggunakan grafik Pelli-Robson. Pada tes ini, pasien diminta untuk menyebutkan huruf-huruf berwarna abu-abu yang disusun dalam bentuk baris dan ditempatkan pada background putih.

 

Semakin ke bawah, warna abu-abu dibuat semakin terang sehingga kontras antara huruf dan background berkurang. Dengan tes ini, dokter bisa menilai kemampuan mata pasien dalam membedakan kontras, di mana hal ini sering kali menjadi kendala pada pasien rabun senja.

 

Selain tes tersebut, dokter mungkin juga melakukan beberapa prosedur pemeriksaan pendukung, seperti:

  • Tes refleks pupil terhadap cahaya.

  • Tes refraksi mata guna mengetahui ketajaman penglihatan.

  • Pemeriksaan oftalmoskopi dan slit lamp.

  • Pemeriksaan lapang pandang.

  • Pemeriksaan elektroretinogram (ERG).

  • Tes buta warna.

Komplikasi Rabun Senja

Jika tidak diobati, rabun senja berisiko menimbulkan beberapa komplikasi, salah satunya gangguan penglihatan ketika siang hari. Sebab, banyak penyebab rabun senja yang juga memengaruhi penglihatan di siang hari. Beberapa kondisi yang bisa muncul adalah penglihatan yang menjadi lebih buram dan cara melihat warna yang terganggu.

 

Selain itu, risiko kecelakaan atau cedera juga meningkat, terutama saat mengemudi di malam hari. Tak heran, sebab mata yang mengalami rabun senja sulit menyesuaikan diri dari kegelapan ke cahaya, ataupun sebaliknya. Bahkan pada kasus yang lebih parah, seseorang dapat mengalami kebutaan, khususnya pasien rabun senja yang disebabkan oleh glaukoma.

Pengobatan Rabun Senja

Pengobatan rabun senja umumnya disesuaikan dengan penyebabnya masing-masing. Berikut penjelasan ringkasnya:

1. Rabun Senja Akibat Glaukoma

Pengobatan untuk rabun senja yang disebabkan oleh glaukoma umumnya melibatkan pemberian tetes mata obat, terapi laser, atau operasi. Namun, Anda perlu berhati-hati, karena beberapa obat glaukoma jenis miotik bisa mengecilkan pupil, yang sebenarnya juga mengurangi penglihatan malam.

2. Rabun Senja Akibat Katarak

Rabun senja yang disebabkan oleh katarak bisa diobati dengan operasi katarak. Prosedurnya melibatkan penggantian lensa mata yang keruh dengan lensa buatan yang bening atau yang biasa disebut lensa intraokular (IOL).

3. Rabun Senja Akibat Retinitis Pigmentosa (RP)

Retinitis pigmentosa adalah penyakit genetik yang merusak sel-sel fotoreseptor retina secara bertahap hingga mati dan tidak dapat menjalankan fungsinya. Faktanya, sampai saat ini belum ada pengobatan untuk menyembuhkan RP. Namun, dokter biasanya akan membantu pasien mengatasi penglihatan yang menurun.

4. Rabun Senja Akibat Defisiensi Vitamin A

Jika rabun senja disebabkan oleh kekurangan vitamin A, pengobatan sering kali dijalankan dengan mengonsumsi suplemen vitamin A. Selain itu, konsumsi makanan yang kaya vitamin A, seperti minyak ikan, hati sapi, kuning telur, keju, bayam, dan wortel, bisa sangat membantu.

 

Baca juga: Apakah Wortel Bisa Mengurangi Mata Minus? Ini Jawabannya

Pencegahan Rabun Senja

Sejatinya, sejumlah penyebab nyctalopia bisa dicegah. Salah satunya adalah kekurangan vitamin A yang disebabkan oleh operasi bypass lambung (gastric bypass). Operasi ini bisa membuat tubuh kesulitan menyerap vitamin A dari makanan sehingga pasien berisiko kekurangan vitamin A dan mengalami rabun senja. Maka, solusi yang bisa dilakukan adalah dengan mengonsumsi vitamin A setelah operasi agar risiko rabun senja dapat dikurangi.

 

Itulah penjelasan lengkap mengenai rabun senja yang perlu Anda pahami dan waspadai. Sejatinya, penderita rabun senja berisiko mengalami penurunan kualitas hidup. Pasalnya, kondisi ini bisa mengganggu aktivitas harian, menurunkan tingkat keselamatan, dan berdampak pada kenyamanan psikologis.

 

Jika membahas mata rabun secara umum, ada beberapa kondisi kesehatan yang bisa menjadi penyebab, salah satunya mata minus. Apakah Anda mengalaminya? Kabar baiknya, Anda bisa mengobati mata minus dengan operasi LASIK.

 

LASIK (Laser-Assisted In Situ Keratomileusis) merupakan prosedur bedah refraktif untuk mengoreksi kelainan refraktif, termasuk mata minus. Dengan LASIK, penglihatan menjadi jauh lebih jelas dan ketergantungan pada kacamata bisa berkurang, bahkan hilang. 

 

Untuk menjalani operasi LASIK yang aman, nyaman, dan presisi, JEC Eye Hospitals and Clinics bisa diandalkan. Layanan LASIK di JEC melibatkan dokter berpengalaman sehingga prosesnya berlangsung cepat dan minim risiko. Penanganan LASIK di JEC juga mencakup crosslinking yang bisa membantu menangani kondisi keratokonus, salah satu penyebab rabun senja.

 

JEC telah sukses melakukan 30.000+ prosedur LASIK dengan teknologi laser yang mutakhir. Jadi, percayakan penanganan kesehatan mata Anda apabila ingin bergerak aktif tanpa kacamata pada JEC Eye Hospitals and Clinics.

 

Baca juga: Miopi (Rabun Jauh): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasinya

icon-doctor