Mohon Tunggu ..

Uveitis Posterior: Kenali Gejala dan Cara Mengobatinya

Oleh Tim Medis JEC

  30 Oct 2026

  57 Views

Share
Uveitis Posterior

Peradangan pada mata dapat mengganggu penglihatan dan memerlukan penanganan yang tepat. Kondisi ini dikenal sebagai uveitis, yaitu peradangan pada uvea atau lapisan tengah mata yang mencakup iris, badan siliar, dan koroid.

Salah satu jenis uveitis adalah uveitis posterior, yaitu peradangan pada bagian belakang uvea yang dapat melibatkan retina. Lalu, bagaimana kondisi ini memengaruhi penglihatan dan bagaimana penanganannya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Apa Itu Uveitis Posterior?

Uveitis adalah peradangan pada uvea, yaitu lapisan tengah mata yang terdiri dari iris (bagian mata yang memberi warna), badan siliar, dan koroid.

Uveitis posterior adalah peradangan pada bagian belakang uvea, yaitu lapisan tengah mata yang mencakup koroid. Bagian ini berperan dalam menyuplai darah dan nutrisi ke jaringan retina. Sementara itu, retina merupakan jaringan peka cahaya yang membantu mata menangkap gambar dan meneruskan informasi penglihatan ke otak.

Uveitis posterior dapat mengenai beberapa jaringan di bagian belakang mata, seperti koroid dan retina. Jika peradangan terjadi pada koroid, kondisi ini disebut koroiditis. Sementara itu, apabila peradangan juga melibatkan retina, kondisi tersebut dapat disebut korioretinitis. 

Kondisi ini memerlukan pemeriksaan oleh dokter spesialis mata untuk memastikan diagnosis dan menentukan penanganannya.

Apa Penyebab Uveitis Posterior?

Uveitis posterior dapat disebabkan oleh infeksi maupun kondisi noninfeksi yang memicu peradangan pada koroid dan retina. Pada sebagian kasus noninfeksi, penyebab pastinya tidak diketahui atau disebut idiopatik. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan uveitis posterior meliputi:

Penyebab Infeksi

Infeksi oleh mikroorganisme tertentu dapat memicu peradangan pada jaringan di bagian belakang mata. Beberapa contohnya adalah:

  • Toksoplasmosis: Infeksi parasit Toxoplasma gondii yang dapat menyerang retina.

  • Tuberkulosis (TBC): Infeksi bakteri yang umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyebabkan peradangan pada mata.

  • Sifilis: Infeksi bakteri yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk mata.

  • Infeksi virus: Beberapa virus, seperti herpes dan cytomegalovirus (CMV), dapat menyebabkan peradangan pada retina.

Penyebab noninfeksi

Uveitis posterior juga dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh memicu peradangan pada jaringan mata. Beberapa penyakit yang dapat berkaitan dengan kondisi ini antara lain:

  • Sarkoidosis: Penyakit peradangan yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk mata.

  • Penyakit Behçet: Penyakit yang menyebabkan peradangan pada pembuluh darah di berbagai bagian tubuh.

  • Sindrom Vogt-Koyanagi-Harada (VKH): Gangguan sistem kekebalan tubuh yang dapat menyebabkan peradangan pada mata dan memengaruhi organ lainnya.

  • Birdshot chorioretinopathy: Penyakit peradangan kronis yang menyerang retina dan koroid.

  • Pada sebagian penderita, penyebab uveitis posterior tidak dapat dipastikan meskipun telah dilakukan pemeriksaan. Kondisi ini disebut uveitis idiopatik.

Faktor Risiko Uveitis Posterior

Beberapa kondisi dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami uveitis posterior, antara lain:

  • Penyakit autoimun: Penderita penyakit autoimun atau gangguan yang diperantarai sistem kekebalan tubuh, seperti sarkoidosis, berisiko mengalami peradangan pada jaringan mata.

  • Konsumsi daging yang kurang matang: Mengonsumsi daging yang tidak dimasak hingga matang dapat meningkatkan risiko infeksi Toxoplasma gondii, parasit yang dapat menyebabkan peradangan pada retina.

  • Penggunaan obat tertentu: Penggunaan obat-obatan tertentu dapat memicu peradangan mata pada sebagian orang yang rentan. Risiko ini bergantung pada jenis obat dan respons tubuh masing-masing individu.

Baca juga: Radang Saraf Mata: Penyebab dan Risiko Komplikasinya

Apa Saja Gejala Uveitis Posterior?

Uveitis posterior dapat memengaruhi fungsi retina dan koroid sehingga menyebabkan gangguan penglihatan. Berikut beberapa gejala yang dapat dialami penderita:

  • Penderita mengalami penurunan kejernihan penglihatan.

  • Muncul bintik, garis, atau bayangan menyerupai awan yang bergerak mengikuti arah pandangan.

  • Mata dapat terlihat merah, baik disertai nyeri maupun tanpa nyeri.

  • Penderita dapat merasa tidak nyaman saat melihat cahaya terang.

Bagaimana Uveitis Posterior Didiagnosis?

Dokter spesialis mata akan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui keluhan, riwayat kesehatan, serta penyakit lain yang pernah dialami pasien. Selanjutnya, dokter memeriksa bagian dalam mata, terutama retina dan koroid, untuk mengidentifikasi tanda-tanda peradangan.

Untuk memastikan diagnosis dan mencari penyebab yang mendasarinya, dokter dapat melakukan pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Pemeriksaan darah.

  • Pengambilan sampel cairan mata.

  • Pemeriksaan pencitraan mata seperti Optical Coherence Tomography (OCT).

  • Pemeriksaan penunjang lainnya, seperti foto rontgen atau pemeriksaan kulit.

Bagaimana Cara Mengobati Uveitis Posterior?

Pengobatan uveitis posterior perlu dilakukan sesegera mungkin untuk mengendalikan peradangan dan mencegah gangguan penglihatan berkepanjangan. Jenis pengobatan ditentukan berdasarkan lokasi peradangan, tingkat keparahan, serta penyebab yang mendasarinya. Beberapa pilihan penanganan yang dapat dilakukan dokter meliputi:

  • Kortikosteroid: Obat ini digunakan untuk mengurangi peradangan. Pada uveitis posterior, dokter dapat memberikan kortikosteroid sistemik dalam bentuk tablet atau melalui suntikan, bergantung pada kondisi pasien.

  • Obat untuk mengatasi penyakit yang mendasari: Jika uveitis berkaitan dengan penyakit autoimun atau gangguan sistemik, dokter dapat bekerja sama dengan spesialis terkait, seperti dokter spesialis penyakit dalam atau reumatologi.

Berbeda dengan uveitis anterior, obat tetes mata umumnya tidak cukup untuk mengatasi peradangan di bagian belakang mata karena obat sulit mencapai jaringan yang terdampak. Oleh karena itu, Anda perlu menjalani pemeriksaan oleh dokter spesialis mata untuk memperoleh penanganan yang sesuai.

Baca juga: Kenapa Bola Mata Sakit? Pahami Kemungkinan Penyebabnya

Uveitis Anterior vs Posterior: Apa Perbedaannya?

Perbedaan utama uveitis anterior dan posterior terletak pada lokasi peradangan di dalam mata. Uveitis anterior memengaruhi bagian depan uvea, terutama iris, sedangkan uveitis posterior menyerang bagian belakang uvea, khususnya koroid, dan juga dapat melibatkan retina.

Uveitis anterior umumnya ditandai dengan mata merah, nyeri, dan sensitivitas terhadap cahaya. Sementara itu, uveitis posterior lebih sering menyebabkan gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur dan munculnya floaters, tanpa nyeri mata yang jelas.

Perbedaan lokasi peradangan juga memengaruhi pemeriksaan dan penanganan yang diperlukan. Uveitis anterior biasanya dievaluasi melalui pemeriksaan bagian depan mata menggunakan slit lamp, sedangkan uveitis posterior memerlukan pemeriksaan retina dan koroid.

Keduanya membutuhkan evaluasi dokter spesialis mata untuk menentukan diagnosis serta penanganan yang sesuai dengan penyebabnya.

Demikian penjelasan mengenai uveitis posterior, mulai dari penyebab, gejala, hingga penanganannya. Jika Anda mengalami gangguan penglihatan, segera periksakan diri ke layanan Infeksi Okular dan Imunologi di JEC Eye Hospitals and Clinics.

Sebagai rumah sakit mata yang didukung oleh dokter spesialis mata berpengalaman dan teknologi diagnostik canggih, JEC Eye Hospitals and Clinics siap membantu Anda menangani penyakit mata akibat peradangan maupun infeksi.

Segera cari dokter dan jadwalkan pemeriksaan mata dengan dokter spesialis JEC untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai dengan kondisi Anda.

Baca juga: Apa Itu Iridosiklitis? Kenali Penyebab dan Gejalanya

 

icon-doctor