Apa Itu Katarak Kortikal? Kenali Penyebab & Gejalanya!

Oleh Tim Medis JEC

  30 Jan 2026

  100 Views

Share
Katarak kortikal

Katarak merupakan kondisi di mana lensa mata menjadi keruh sehingga mengganggu penglihatan dan kualitas hidup sehari-hari. Salah satu jenis katarak yang cukup umum adalah katarak kortikal, yang ditandai dengan silau atau munculnya lingkaran cahaya saat melihat lampu.

 

Katarak kortikal dapat berkembang secara perlahan sehingga penting untuk mengenali gejalanya sejak dini agar pengobatan dapat dilakukan dengan tepat dan penglihatan tidak semakin memburuk. Simak informasi selengkapnya di bawah ini.

Apa Itu Katarak Kortikal?

Katarak kortikal adalah jenis katarak yang mulai terbentuk di tepi lensa mata, tepatnya pada lapisan luar lensa yang disebut korteks. Keruh pada lensa ini berkembang dengan pola menyerupai jari-jari roda yang bergerak dari tepi menuju pusat lensa. 

 

Seiring berkembangnya katarak, cahaya yang masuk ke mata menjadi tersebar sehingga penglihatan tampak kabur atau berkabut. Katarak kortikal dapat berkembang secara perlahan dalam jangka waktu lama, atau terkadang berkembang dengan cepat sehingga gangguan penglihatan pun terjadi lebih cepat.

Jenis-Jenis Katarak Kortikal

Terdapat dua jenis katarak kortikal, yakni katarak kortikal posterior dan anterior. Lantas, apa perbedaan antara katarak kortikal anterior dan posterior? Berikut penjelasan singkatnya:

 

  • Katarak kortikal posterior, terjadi ketika keruh terbentuk di lapisan tepat di belakang  kapsul lensa dan lebih mengganggu penglihatan karena penderita akan menjadi silau dan akan mengalami penurunan kejernihan, terutama saat terang atau di malam hari sehingga efeknya lebih berat dibanding katarak jenis lain.
  • Katarak kortikal anterior, terbentuk di depan kapsul lensa, atau di dalamnya. Biasanya, katarak jenis ini disebabkan oleh cedera pada kepala atau mata, bukan karena proses penuaan.

Penyebab Katarak Kortikal

Penyebab paling umum katarak kortikal adalah proses penuaan alami, yang menyebabkan perubahan struktur lensa mata. Setelah usia 40 tahun, protein di dalam lensa mulai mengalami kerusakan. Meski sangat jarang, kelainan genetik juga dapat menyebabkan seorang anak lahir dengan katarak. 

 

Beberapa faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami  katarak, antara lain:

 

  • Diabetes.
  • Cedera mata yang parah.
  • Riwayat keluarga dengan katarak.
  • Obat steroid.
  • Terapi radiasi untuk kanker.
  • Merokok.
  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Terlalu sering berada di bawah sinar matahari tanpa pelindung mata.

Baca juga: Kenali Penyebab Mata Katarak di Usia Muda dan Pengobatannya

Gejala Katarak Kortikal

Katarak kortikal dapat menimbulkan berbagai gangguan penglihatan. Gejala-gejala ini biasanya berkembang secara bertahap selama beberapa tahun, meliputi:

 

  • Penglihatan kabur: Keruh pada lensa membuat benda tampak buram atau berkabut.
  • Penurunan persepsi warna: Katarak kortikal dapat membuat warna tampak pudar atau kekuningan, serta penderita menjadi sulit membedakan berbagai nuansa warna.
  • Sensitif terhadap cahaya (fotofobia): Penderita katarak kortikal mungkin lebih sensitif terhadap cahaya terang atau melihat lingkaran cahaya (halo) di sekitar sumber cahaya sehingga sulit melihat atau mengemudi di malam hari.
  • Penglihatan ganda: Beberapa orang mengalami penglihatan ganda atau bayangan yang terdistorsi.

Baca juga: 7 Ciri-Ciri Mata Katarak yang Wajib Diwaspadai, Ini Gejala Awalnya!

Diagnosis Katarak Kortikal

Untuk mendiagnosis katarak kortikal, dokter mata akan melakukan pemeriksaan menyeluruh yang dimulai dengan anamnesis atau wawancara medis untuk menanyakan riwayat medis yang meliputi kondisi kesehatan, gejala penglihatan, dan hasil pemeriksaan mata sebelumnya.

 

Pemeriksaan mata dapat meliputi beberapa tes untuk mengevaluasi struktur dan fungsi mata. Dokter mungkin akan meneteskan obat untuk melebarkan pupil agar dapat melihat bagian dalam mata. Tes-tes yang mungkin dilakukan meliputi:

 

  • Tes ketajaman penglihatan: Pasien berdiri pada jarak tertentu dari diagram Snellen untuk menilai seberapa baik penglihatan pasien.
  • Pemeriksaan slit-lamp: Menggunakan mikroskop slit-lamp untuk memeriksa struktur mata, termasuk kornea, iris, dan lensa.
  • Pemeriksaan retina: Setelah pupil dilebarkan, dokter menggunakan slit-lamp atau oftalmoskop untuk memeriksa adanya katarak, glaukoma, atau kelainan pada retina dan saraf optik.

Pengobatan Katarak Kortikal

Perawatan katarak kortikal tergantung pada tingkat keparahan dan penyebabnya. Pada penderita dengan gejala ringan, kacamata terkadang sudah cukup untuk membantu penglihatan. Namun, jika katarak kortikal berkembang akibat kondisi seperti diabetes, penting untuk mengelola kondisi tersebut dengan baik.

 

Bagi penderita dengan gejala yang lebih parah dan penglihatan terganggu, satu-satunya cara untuk menangani katarak adalah melalui operasi. Selama operasi, dokter mengangkat lensa yang keruh dan menggantinya dengan lensa intraokular buatan (IOL).

 

Seiring waktu, kapsul lensa (bagian yang menahan lensa di tempatnya) bisa menjadi keruh kembali sehingga penglihatan tampak kabur. Untuk mengatasinya, dokter dapat melakukan kapsulotomi agar penglihatan kembali jernih.

 

Studi dari Journal of Optometry (2024) melaporkan bahwa setelah operasi, pasien mengalami perbaikan yang signifikan, terutama pada aktivitas yang memerlukan penglihatan jarak dekat, seperti membaca dan menjahit. 

Apakah Katarak Kortikal dapat Dicegah?

Meskipun tidak semua faktor risiko katarak bisa dicegah, beberapa perubahan gaya hidup dapat membantu menurunkan kemungkinan munculnya katarak kortikal:

 

  • Lindungi mata dari sinar UV: Pakai kacamata hitam yang mampu menyaring sinar UV untuk melindungi mata dari paparan sinar matahari yang berlebihan.
  • Berhenti merokok: Menghentikan kebiasaan merokok bermanfaat bagi kesehatan secara keseluruhan dan dapat menurunkan risiko katarak.
  • Kontrol diabetes: Penderita diabetes dapat mengurangi risiko katarak kortikal dengan menjaga gula darah tetap normal.
  • Batasi alkohol: Mengurangi konsumsi alkohol dapat membantu menurunkan risiko katarak.
  • Pemeriksaan mata rutin: Lakukan pemeriksaan mata rutin, terutama setelah usia 60 tahun atau lebih awal jika berisiko tinggi

Demikian ulasan singkat mengenai apa itu katarak kortikal, penyebab, hingga langkah pencegahannya. Dengan memahami faktor pemicu serta gejalanya, Anda dapat lebih cepat mengenali kondisi ini dan segera mencari penanganan medis yang tepat sebelum penglihatan semakin memburuk.

 

Jika Anda mengalami gejala yang mengarah pada katarak kortikal, segera konsultasikan dengan dokter spesialis mata untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan lebih lanjut. Salah satu pilihan rumah sakit mata yang dapat Anda pilih adalah JEC Eye Hospitals and Clinics.

 

Melalui layanan Katarak, Anda bisa memperoleh pemeriksaan menyeluruh dan perawatan oleh dokter mata berpengalaman terkait masalah katarak. Dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, risiko gangguan penglihatan akibat katarak kortikal dapat diminimalkan sehingga kualitas hidup Anda tetap terjaga.

 

Baca juga: Adakah Cara Mengobati Katarak Tanpa Operasi? Ketahui Faktanya!

icon-doctor