Apa Itu Nistagmus? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh Dr. Valenchia, SpM, ChM
Oleh Tim Medis JEC

  24 Jun 2026

  23 Views

Share
Nistagmus

Berbagai kondisi dapat memengaruhi fungsi penglihatan dan menurunkan kenyamanan saat beraktivitas. Sebagian gangguan bersifat ringan, tetapi ada juga yang dapat mengganggu fokus dan ketajaman penglihatan Anda.

Salah satu gangguan mata yang perlu dikenali adalah nistagmus, yaitu kondisi yang menyebabkan gerakan bola mata terjadi secara berulang dan tidak terkendali. Ketahui penyebab, gejala, serta cara penanganannya melalui pembahasan berikut. 

Apa Itu Nistagmus?

Nistagmus adalah gangguan pada mata yang menyebabkan bola mata bergerak secara berulang, cepat, dan tidak terkendali. Gerakan ini dapat terjadi secara horizontal (ke kanan dan kiri), vertikal (ke atas dan bawah), maupun rotasi (berputar).

Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan mata untuk mempertahankan fokus pada suatu objek sehingga berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan. Selain itu nistagmus umumnya merupakan gejala dari penyakit lain seperti pada sistem saraf.

Meskipun tergolong kondisi yang jarang ditemukan, nistagmus merupakan salah satu gangguan pergerakan mata yang cukup sering dijumpai dalam praktik klinis. 

Meski tergolong jarang, nistagmus dapat dialami oleh berbagai kelompok usia. Berdasarkan artikel yang dipublikasikan di National Library of Medicine (2025), terdapat sekitar 24 kasus nistagmus per 10.000 penduduk. Sementara itu, studi lain melaporkan sekitar 16,6 kasus per 10.000 penduduk, dengan nistagmus infantil terkait albinisme sebagai jenis yang paling sering ditemukan. 

Pada orang dewasa, nistagmus diperkirakan terjadi pada sekitar 26,5 dari setiap 10.000 orang dan umumnya berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf. Sementara itu, nistagmus infantil ditemukan pada sekitar 6,1 dari setiap 10.000 bayi yang lahir hidup, dengan risiko yang lebih tinggi pada bayi prematur. 

Jenis-Jenis Nistagmus

Secara umum, nistagmus dapat dibedakan menjadi dua jenis utama berdasarkan waktu kemunculannya, yaitu nistagmus kongenital (infantil) dan nistagmus didapat. Untuk memahami keduanya, Anda bisa simak penjelasan berikut:

Nistagmus Kongenital atau Infantil

Nistagmus kongenital atau infantil adalah jenis nistagmus yang muncul sejak lahir atau berkembang pada beberapa bulan pertama kehidupan bayi, biasanya sebelum usia 6 bulan. 

Pada sebagian besar kasus, nistagmus infantil berkaitan dengan gangguan perkembangan sistem penglihatan sejak awal, bukan akibat penyakit yang didapat kemudian.

Selain faktor kelainan mata, nistagmus ini juga dapat dipengaruhi oleh faktor genetik. Meski demikian, penyebab pastinya tidak selalu diketahui. 

Anak dengan nistagmus kongenital umumnya mengalami gangguan pada kedua mata, dengan gerakan bola mata yang paling sering terjadi ke arah samping (horizontal). Kondisi ini dapat membuat penglihatan menjadi tidak stabil sehingga objek terlihat kabur atau kurang jelas.

Baca juga: 6 Penyebab Mata Anak Sering Berkedip dan Cara Mengatasinya

Nistagmus yang Didapat

Nistagmus yang didapat, atau juga dikenal sebagai acquired nystagmus, adalah jenis nistagmus yang muncul setelah masa bayi, umumnya pada anak usia 6 bulan hingga 3 tahun atau pada dewasa.

Berbeda dengan nistagmus kongenital, kondisi ini biasanya terjadi secara tiba-tiba atau berkembang seiring waktu akibat gangguan tertentu pada tubuh.

Nistagmus jenis ini sering kali berkaitan dengan gangguan pada otak, sistem saraf, atau telinga bagian dalam yang berperan dalam mengatur keseimbangan dan koordinasi gerakan mata.

Namun, tidak semua kasus nistagmus yang didapat berkaitan dengan penyakit tertentu. Pada beberapa kasus, nistagmus juga dapat muncul tanpa penyebab yang jelas.

Penyebab Nistagmus

Adapun beberapa penyebab nistagmus meliputi:

  • Stroke.
  • Tumor otak.
  • Cedera pada kepala atau mata.
  • Kelainan pada retina atau saraf optik.
  • Konsumsi alkohol atau penggunaan obat-obatan tertentu.
  • Gangguan perkembangan pada otak atau mata.
  • Albinisme (kurangnya pigmen pada mata dan kulit).
  • Gangguan penglihatan seperti rabun jauh atau astigmatisme.
  • Efek samping obat tertentu, seperti obat anti kejang.
  • Penyakit sistem saraf pusat, misalnya multiple sclerosis (MS)
  • Gangguan penglihatan pada bayi, seperti strabismus dan katarak.
  • Gangguan telinga bagian dalam, seperti benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) dan penyakit Ménière.

Gejala Nistagmus

Gejala nistagmus dapat berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada jenis dan penyebabnya. Namun, kondisi ini umumnya ditandai dengan gerakan bola mata yang berulang dan tidak terkendali sehingga dapat mengganggu kemampuan melihat dengan jelas.

Beberapa gejala nistagmus yang sering muncul meliputi:

  • Gerakan mata yang cepat dan tidak terkendali ke samping, ke atas-bawah, atau berputar.

  • Penglihatan kabur atau kurang jelas.
  • Sensasi seolah-olah melihat lingkungan di sekitar bergerak atau bergoyang (oscillopsia).
  • Kesulitan menjaga fokus saat melihat suatu objek.
  • Gangguan keseimbangan saat berdiri atau berjalan.
  • Pusing atau sensasi berputar (vertigo).
  • Mengalami fotofobia atau sensitif saat melihat cahaya.
  • Kesulitan melihat dalam kondisi pencahayaan yang redup.

Baca juga: Mata Juling (Strabismus): Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobati

Diagnosis Nistagmus

Untuk menegakkan diagnosis nistagmus, dokter melakukan wawancara medis (anamnesis) mengenai gejala yang dialami, kapan keluhan mulai muncul, riwayat penyakit, penggunaan obat-obatan tertentu, serta riwayat gangguan mata atau saraf dalam keluarga.

Selanjutnya, dokter melakukan pemeriksaan mata secara menyeluruh untuk mengamati pola gerakan mata, ketajaman penglihatan, koordinasi kedua mata, serta kondisi retina dan saraf optik. Dokter juga dapat memeriksa apakah terdapat gangguan mata lain yang berkaitan dengan nistagmus.

Jika diperlukan, dokter dapat menyarankan pemeriksaan lanjutan untuk mencari penyebab yang mendasari nistagmus, seperti MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau CT scan untuk mengevaluasi kondisi otak dan sistem saraf.

Selain itu, pemeriksaan telinga bagian dalam, pemeriksaan neurologis, atau tes genetik juga dapat dilakukan apabila dicurigai adanya gangguan telinga bagian dalam, kelainan saraf, atau faktor keturunan yang berperan dalam timbulnya nistagmus pada pasien.

Bagaimana Penanganan Nistagmus?

Setelah memahami penjelasan sebelumnya, Anda mungkin bertanya apakah nistagmus bisa sembuh dan tindakan apa saja yang dapat dilakukan untuk menangani kondisi ini.

Pada dasarnya, penanganan nistagmus sangat bergantung pada penyebab yang mendasarinya serta jenis nistagmus yang dialami. Jika nistagmus muncul setelah masa bayi atau saat dewasa (nistagmus yang didapat), kondisi ini dapat membaik, bahkan hilang sepenuhnya, apabila penyebab utamanya berhasil diatasi.

Di sisi lain, pada nistagmus kongenital atau infantil, gejala dapat berkurang seiring pertumbuhan anak. Namun, dalam beberapa kasus, kondisi ini umumnya tidak dapat disembuhkan sepenuhnya. Meski begitu, penanganan yang tepat tetap dapat membantu mengendalikan gejala dan mengoptimalkan fungsi penglihatan pasien.

Beberapa langkah penanganan yang umumnya direkomendasikan oleh dokter, antara lain:

1. Kacamata atau Lensa Kontak

Kacamata atau lensa kontak dapat membantu memperbaiki gangguan refraksi yang menyertai nistagmus sehingga penglihatan menjadi lebih jelas. Pada beberapa kasus, dokter juga dapat merekomendasikan lensa prisma untuk membantu menstabilkan penglihatan.

2. Obat-obatan

Beberapa jenis obat, seperti gabapentin, baclofen, dan onabotulinumtoxinA (Botox), dapat diberikan untuk membantu mengurangi gejala nistagmus pada orang dewasa. Penggunaan obat akan disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.

3. Operasi Otot Mata

Pada kasus tertentu, dokter dapat menyarankan operasi pada otot mata. Meskipun tidak dapat menyembuhkan nistagmus, tindakan ini dapat membantu meningkatkan kenyamanan penglihatan dan mengurangi kebutuhan untuk memiringkan atau memutar kepala saat melihat.

4. Operasi Koreksi Penglihatan

Pada pasien nistagmus yang juga memiliki gangguan refraksi, seperti rabun jauh, dokter dapat mempertimbangkan prosedur koreksi penglihatan dengan laser, misalnya operasi LASIK mata, untuk membantu meningkatkan kualitas penglihatan.

Demikian penjelasan mengenai nistagmus beserta penyebab, gejala, dan penanganannya. Karena dapat mengganggu penglihatan, penting bagi Anda untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini. 

Apabila Anda mengalami gejala yang mengarah pada nistagmus, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis mata agar penyebabnya dapat diketahui dengan tepat.

Jika diperlukan, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah nistagmus berkaitan dengan gangguan pada mata, saraf, atau sistem keseimbangan tubuh.

Untuk pemeriksaan dan penanganan yang lebih komprehensif, Anda dapat memeriksakan kondisi mata di JEC Eye Hospitals and Clinics melalui layanan Neuro-Oftalmologi. Layanan ini berfokus pada diagnosis dan penanganan berbagai gangguan penglihatan yang berkaitan dengan sistem saraf.

Di JEC Eye Hospitals and Clinics, setiap pasien akan ditangani oleh dokter spesialis mata berpengalaman dengan dukungan pemeriksaan diagnostik modern. Metode penanganan yang diberikan juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Baca juga: Mata Malas: Kenali Gejala, Penyebab, dan Cara Pengobatannya

icon-doctor