Radang Saraf Mata: Penyebab dan Risiko Komplikasinya
Istilah radang saraf mata merujuk pada neuritis optik, yaitu peradangan pada saraf optik yang menghubungkan mata dengan otak. Kondisi ini dapat mengganggu penghantaran sinyal penglihatan sehingga kemampuan melihat menurun.
Tidak hanya itu, beberapa penderita radang saraf mata juga mengalami keluhan yang muncul secara tiba-tiba dan memerlukan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya. Lebih lanjut, Anda bisa menyimak pembahasan lengkapnya dalam artikel berikut.
Penyebab Radang Saraf Mata
Penyebab pasti radang saraf mata atau neuritis optik tidak selalu dapat diidentifikasi, meskipun penderita telah menjalani berbagai pemeriksaan medis. Pada sebagian kasus, kondisi ini muncul tanpa penyebab yang jelas dan disebut sebagai idiopatik.
Meski demikian, neuritis optik sering dikaitkan dengan sejumlah kondisi yang dapat memicu peradangan pada saraf optik. Berikut beberapa penyebab radang saraf mata yang paling umum:
1. Autoimun dan Peradangan
Penyakit autoimun dan kondisi peradangan merupakan penyebab yang paling sering dikaitkan dengan neuritis optik. Pada penyakit autoimun, sistem kekebalan tubuh keliru menyerang jaringan sehat, termasuk saraf optik sehingga memicu peradangan dan mengganggu penghantaran sinyal visual dari mata ke otak.
Jenis penyakit autoimun yang mendasari peradangan saraf mata (neuritis optik) dapat berbeda pada setiap penderita, bergantung pada tipe neuritis optik yang dialami. Beberapa penyakit autoimun diketahui sering berkaitan dengan terjadinya neuritis optik, antara lain:
- Multiple sclerosis (MS): Penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang selubung mielin. Neuritis optik sering menjadi salah satu tanda awal multiple sclerosis. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 50% penderita neuritis optik tipikal berisiko mengalami MS dalam kurun waktu 15 tahun.
- Neuromyelitis optica (NMO): Penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan pada saraf optik dan sumsum tulang belakang. Meskipun memiliki beberapa kemiripan dengan multiple sclerosis, NMO merupakan kondisi yang berbeda dan umumnya menyebabkan serangan yang lebih berat.
- MOG-antibody-associated disease (MOGAD): Gangguan autoimun yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang protein myelin oligodendrocyte glycoprotein (MOG). Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan pada saraf optik, otak, dan sumsum tulang belakang. Seperti multiple sclerosis dan NMO, MOGAD dapat menyebabkan serangan neuritis optik yang berulang. Namun, secara umum, pemulihan setelah serangan MOGAD cenderung lebih baik dibandingkan dengan NMO.
Baca juga: Kenapa Bola Mata Sakit? Pahami Kemungkinan Penyebabnya!
2. Infeksi
Selain penyakit autoimun, berbagai infeksi juga dapat menjadi penyebab radang saraf mata. Infeksi tersebut dapat memicu respons peradangan yang menyerang saraf optik sehingga mengganggu penghantaran sinyal visual dari mata ke otak.
Beberapa infeksi bakteri yang diketahui berkaitan dengan neuritis optik meliputi penyakit Lyme, cat-scratch disease (penyakit akibat cakaran kucing), dan sifilis.
Sementara itu, infeksi virus seperti campak, gondongan (mumps), dan herpes juga dapat meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada saraf optik.
3. Obat-Obatan dan Zat Beracun
Pada beberapa kasus, radang saraf mata dapat dipicu oleh efek samping obat-obatan tertentu maupun paparan zat beracun yang bersifat toksik terhadap saraf optik. Paparan tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada serabut saraf optik sehingga memicu peradangan.
Beberapa obat yang diketahui berhubungan dengan neuritis optik antara lain ethambutol, yaitu antibiotik untuk pengobatan tuberkulosis, serta isoniazid yang juga digunakan dalam terapi tuberkulosis.
Selain itu, paparan zat beracun seperti metanol juga dapat menyebabkan kerusakan pada saraf optik yang berujung pada gangguan penglihatan.
4. Reaksi Pascavirus atau Pascavaksinasi
Pada kasus yang jarang terjadi, neuritis optik dapat muncul setelah seseorang mengalami infeksi virus, seperti infeksi saluran pernapasan atas, maupun setelah menerima vaksinasi, terutama vaksin campak, gondongan, rubela (MMR), dan hepatitis B.
Neuritis optik akibat reaksi pascavirus atau pascavaksinasi diduga berkaitan dengan respons sistem kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap virus atau vaksin. Respons tersebut dapat memicu peradangan pada saraf optik sehingga mengganggu penghantaran sinyal visual dari mata ke otak.
5. Kondisi Medis Lainnya
Selain penyakit autoimun, infeksi, maupun paparan obat dan zat beracun, beberapa kondisi medis lain juga dapat meningkatkan risiko terjadinya radang saraf mata.
Beberapa penyakit yang diketahui berkaitan dengan neuritis optik antara lain diabetes mellitus, sarkoidosis, systemic lupus erythematosus (SLE), penyakit Behçet, serta defisiensi vitamin B12.
Baca juga: Infeksi Mata: Pahami Penyebab, Jenis, dan Cara Mengatasinya
Risiko Komplikasi Radang Saraf Mata
Apabila gejala radang saraf mata, seperti nyeri mata atau gangguan penglihatan warna, tidak segera ditangani, peradangan pada saraf optik dapat berlanjut hingga menyebabkan kerusakan permanen.
Akibatnya, penderita berisiko mengalami berbagai komplikasi yang dapat memengaruhi fungsi penglihatan maupun kualitas hidup, di antaranya:
- Penurunan penglihatan permanen: Kerusakan saraf optik yang menetap dapat menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan, gangguan lapang pandang, hingga kesulitan membedakan warna. Pada sebagian kecil kasus, fungsi penglihatan tidak dapat pulih sepenuhnya meskipun telah menjalani terapi.
- Atrofi saraf optik: Penyusutan atau kerusakan permanen pada saraf optik akibat peradangan berat atau berulang. Komplikasi ini dapat menyebabkan gangguan penglihatan yang menetap.
- Penglihatan ganda (diplopia): Pada sebagian kasus, radang saraf mata dapat menyebabkan penglihatan ganda atau diplopia. Keluhan ini dapat muncul apabila neuritis optik berkaitan dengan gangguan sistem saraf pusat atau melibatkan kedua-dua mata.
- Mata mudah lelah (visual fatigue): Sebagian penderita masih dapat mengalami mata mudah lelah meskipun peradangan pada saraf optik telah mereda. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas yang membutuhkan fokus penglihatan dalam waktu lama, seperti membaca, bekerja di depan komputer, atau mengemudi.
- Uveitis: Meski jarang, neuritis optik dapat terjadi bersamaan dengan uveitis, yaitu peradangan pada lapisan tengah mata. Kombinasi kedua kondisi tersebut dapat memperumit penanganan dan meningkatkan risiko gangguan penglihatan.
- Kehilangan lapang pandang: Peradangan yang menyebabkan kerusakan pada saraf optik dapat mengakibatkan hilangnya sebagian atau seluruh lapang pandang. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada penderita yang mengalami kekambuhan neuritis optik atau memiliki penyakit autoimun, seperti neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD).
- Peningkatan risiko glaukoma akibat terapi steroid: Penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang untuk mengatasi kekambuhan neuritis optik dapat meningkatkan risiko glaukoma. Oleh karena itu, penderita perlu menjalani kontrol rutin agar tekanan bola mata tetap terpantau dan komplikasi dapat dicegah.
Demikian penjelasan mengenai penyebab, gejala, hingga penanganan radang saraf mata atau neuritis optik. Kondisi ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat memengaruhi fungsi penglihatan, terutama jika tidak segera didiagnosis dan ditangani dengan tepat.
Apabila Anda mengalami gejala seperti penglihatan kabur secara tiba-tiba, nyeri saat menggerakkan mata, atau penurunan kemampuan melihat warna, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mengetahui penyebabnya sekaligus mencegah kerusakan saraf optik yang lebih lanjut.
Untuk mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat, Anda dapat berkonsultasi di layanan Neuro-Oftalmologi JEC Eye Hospitals and Clinics. Layanan ini berfokus pada deteksi serta penanganan berbagai gangguan yang memengaruhi saraf optik dan hubungan antara mata dan sistem saraf.
Didukung oleh dokter spesialis mata yang berpengalaman di bidang neuro-oftalmologi serta teknologi diagnostik modern, JEC Eye Hospitals and Clinics siap memberikan pemeriksaan yang komprehensif dan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Baca juga: Apa Itu Uveitis? Berikut Penyebab, Gejala, dan Cara Pengobatannya


ENG