JEC Eye Talks

Apr 27, 2021
statistic 126
Penderita Diabetes Terancam Retinopati Diabetik
  • WHO: secara global satu miliar orang mengalami gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dicegah/diobati - sekitar 3,9 juta di antaranya disebabkan oleh retinopati diabetik
  • Bila tak segera terdeteksi, retinopati diabetik bisa menimbulkan gangguan pandangan, bahkan kebutaan
  • Penggunaan obat tetes mata tidak membatalkan puasa

Jakarta, 27 April 2021 – Puasa selama Ramadan telah teruji memberikan efek positif pada kesehatan. Meski demikian, penderita diabetes perlu lebih berhati-hati ketika menjalankan ibadah puasa agar kondisi penyakitnya tidak memburuk. Jika tidak, retinopati diabetik menjadi salah satu komplikasi yang berpotensi menyebabkan kebutaanWHO[1] menyebut retinopati diabetik sebagai lima besar penyebab gangguan penglihatan dan kebutaan yang dapat dicegah/diobati (menyerang 3,9 juta orang di seluruh dunia). Terkait kondisi tersebut, eye care leaderJEC Eye Hospitals and Clinics kembali menggelar JEC Eye Talks, sesi diskusi yang melibatkan dokter ahli JEC dan para media di Indonesia; kali ini membahas “Pengaruh Puasa Ramadan pada Kesehatan Mata dan Pengidap Diabetes”.

“Secara umum, puasa tidak memberikan pengaruh signifikan pada organ mata manusia. Namun, penderita diabetes perlu tetap waspada terhadap potensi gangguan mata akibat komplikasinya. Apabila tidak terdeteksi sejak dini, retinopati diabetik bisa menyebabkan pendarahan dan robekan pada retina sehingga menimbulkan gangguan pandangan, seperti berbayang atau munculnya bercak hitam, bahkan sampai kebutaan. Karenanya, sangat penting bagi pengidap diabetes untuk tetap mampu menjaga kadar gulanya selama berpuasa, dan melakukan pemeriksaan retina secara berkala: minimal setahun sekali,tergantung derajat keparahan penyakit,” papar Dr. Martin Hertanto, SpM, Medical Retina, Vitreo-Retina, and Cataract Specialist, JEC Eye Hospitals and Clinics.

Retinopati diabetik adalah salah satu penyebab kebutaan terbanyak di kalangan usia produktif.Penyakit ini terjadi akibat tingginya kadar gula dalam tubuh yang tidak terkontrol secara berkepanjangan sehingga merusak pembuluh darah pada retina dan jaringan-jaringan yang sensitif terhadap cahaya. Penyakit ini terbagi menjadi dua tipe: 1) nonproliferative diabetic retinopathy (NPDR) - tahapan awal, terjadi sedikit kebocoran pada pembuluh darah; 2) proliferative diabetic retinopathy (PDR) - tahapan lebih lanjut, mulai tumbuh pembuluh darah baru di retina (neovaskularisasi) yang mudah pecah dan mengalami pendarahan.

Berdasarkan Riskesdas 2018[2] prevalensi diabetes mencapai 8,5%, atau jauh meningkat dibandingkan temuan sebelumnya Riskesdas 2013 yang masih 6,9%. Data Kementerian Kesehatan[3] memaparkan, pada tahun2015, Indonesia menempati peringkat ketujuh dunia untuk prevalensi penderita diabetes tertinggi di dunia; dengan estimasi mencapai 10 juta orang.  Bahkan, diabetes (dengan komplikasi) menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia (setelah stroke dan penyakit jantung koroner). Persentase kematian akibat diabetes di Indonesia merupakan yang tertinggi kedua di dunia, setelah Srilanka. Yang membuat penyakit ini makin mengkhawatirkan, hampir dua per tiga penderita diabetes tidak menyadari bahwa mereka mengidapnya. Artinya, kalangan ini sangat mungkin baru mengakses layanan kesehatan dalam kondisi terlambat (sudah dengan komplikasi). Terkait dengan organ mata, selain retinopati diabetik, diabetes juga memicu timbulnya katarak dan glaukoma. Perencanaan berpuasa menjadi kunci bagi penderita diabetes agar tetap bisa menjalankan ibadah selama Ramadan, dan terhindar dari risiko penyakit lanjutan lainnya.

“Penderita diabetes tetap bisa berpuasa dengan aman. Syaratnya, mereka harus terus berkonsultasi dengan dokter ahli agar kondisi penyakitnya terus terpantau. Pengecekan tersebut untuk memastikan sejauh mana batas pengidap diabetes boleh berpuasa. Perencanaan berpuasa sangatlah krusial dan bersifat individual - tergantung tingkat diabetes masing-masing penderita. Tidak bisa disamaratakan. Dari tahap pemeriksaan itu, dokter bisa merekomendasikan modifikasi porsi asupan, termasuk dosis obat. Selain itu, selama berpuasa, monitoring gula darah harus lebih sering dilakukan,” jelas Dr. Suharko Soebardi, SpPD - KEMD, Internist JEC Eye Hospitals and Clinics.
 
Dari sisi layanan, JEC Eye Hospitals & Clinics menghadirkan JEC Sentra Retina sebagai pusat perawatan spesialisasi retina pertama di Indonesia. Pelayanan yang lengkap dan menyeluruh dengan peralatan medis, bedah dan diagnostik modern. JEC Sentra Retina telah dilengkapi peralatan medis dan bedah yang lengkap, yaitu Complete Vitreoretinal Surgical Set berikut Transconjuctival Sutureless Vitrectomy (TSV), Micro-Endoscopy, Indirect Laser, Diode and Yag Laser, Argon dan beberapa jenis alat medis lain. Selain itu, JEC melalui JEC Sentra Retina menjadi institusi kesehatan mata satu-satunya di Indonesia yang mempunyai fasilitas diagnostik dan pengobatan mutakhir, Heidelberg Retinal Tomography (HRT).
 
Sementara, untuk penanganan diabetes, JEC Eye Hospitals & Clinics memiliki Diabetes Education & Care yang komprehensif, baik untuk penanganan diabetesnya, pengontrolan gizi, sampai kesehatan mata pasien penderita diabetes. Layanan Diabetes Education & Care mulai dari Konsultasi dengan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultasi dan Edukasi Gizi dan Obat, Laboratorium Khusus, dan Ruang Perawatan Kaki (Foot Care). Diabates Education & Care diperkuat oleh jajaran dokter penyakit dalam khusus dan tenaga medis mumpuni, serta teknologi terkini dan sistem pendukung unggulan, tak terkecuali hospitality yang optimal.

[2] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, “Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018; https://kesmas.kemkes.go.id/assets/upload/dir_519d41d8cd98f00/files/Hasil-riskesdas-2018_1274.pdf

[3] Kementerian Kesehatan RI: “Diabetes Fakta dan Angka” (2016): http://p2ptm.kemkes.go.id/uploads/2016/11/Diabetes-Fakta-dan-Angka.pdf

 

 

Share Article fb tw wa

Want to know more information about JEC?

Be the first to know about JEC by subscribe to our newsletter.