Diabetic Macular Edema menjadi penyebab utama gangguan penglihatan pada pasien diabetes

  20 Mar 2023

  5,526 Views

Share

Deteksi dini dan penanganan tepat menjadi tahapan yang sangat penting untuk mencegah progresivitas Diabetic Macular Edema

  • Indonesia menjadi negara dengan penderita diabetes tertinggi kelima di dunia; diprediksi akan terus meningkat hingga 28,6 juta jiwa pada 2045 mendatang
  • Prevalensi global DME diperkirakan mencapai 6,8 persen
  • JEC tangani sekitar 10.000 pasien DME selama tiga tahun terakhir, di seluruh 13 cabangnya 
  • Spesialis mata dari JEC, DR. Dr. Soefiandi Soedarman, SpM(K), menggagas penelitian "Hubungan Kadar Serum Apolipoprotein A1, Apolipoprotein B Dengan Tingkat Keparahan, Progresivitas, dan Respon Terapi Diabetic Macular Edema Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2"; mengantarkannya meraih gelar Doktor dari Universitas Gadjah Mada

Yogyakarta, 20 Maret 2023 – Diabetic Macular Edema (DME) menjadi penyebab utama gangguan penglihatan pada pasien diabetes melitus (DM). Prevalensi global DME diperkirakan mencapai 6,8 persen. Khususnya pada penderita DM tipe 2, prevalensi DME meningkat dari 3 persen (setelah 5 tahun terdiagnosis DM) menjadi 28 persen  (setelah 20 tahun terdiagnosis DM). Di JEC Eye Hospitals and Clinics sendiri, di seluruh 13 cabangnya, selama tiga tahun terakhir (2019-2022) telah menangani sekitar 10.000 pasien yang terdiagnosis DME.

DME merupakan penebalan retina yang melibatkan atau mendekati bagian pusat makula; terjadi karena akumulasi cairan eksudat (campuran serum dan sel yang keluar dari pembuluh darah ke ruang di sekitarnya akibat kebocoran pembuluh darah atau peningkatan permeabilitas pembuluh darah) yang terbentuk akibat kerusakan pada blood-retinal barrier pada lapisan endotel pembuluh kapiler retina. Umumnya disebabkan oleh hipoksia (penurunan kadar oksigen dalam jaringan tubuh).

“Mengingat makula berperan penting dalam penglihatan sentral, penglihatan warna, serta penglihatan detail, penderita DME sangat berisiko mengalami penurunan penglihatan, bahkan sampai kebutaan. Karenanya, bagi penderita diabetes, deteksi dini dan penanganan tepat menjadi tahapan yang sangat penting dilakukan untuk mencegah progresivitas DME,” papar DR. Dr. Soefiandi Soedarman, SpM(K), dokter mata subspesialis Vitreoretina JEC Eye Hospitals and Clinics, yang juga Direktur Medik JEC @ Menteng.

DME juga merujuk pada komplikasi dari kondisi Retinopati Diabetik (Diabetic Retinopathy/DR) yang dipicu oleh kadar gula tinggi pada pasien diabetes sehingga mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah retina mata, terutama di jaringan-jaringan yang sensitif terhadap cahaya.[1]Meski demikian, munculnya DME dinilai terpisah dari tahapan retinopati (tingkatan kerusakan pada retina). DME dapat ditemukan pada mata dengan retinopati di tahapan manapun, dan progress-nya berlangsung secara terpisah.

“Pada tahap awal, umumnya pasien belum merasakan gejala klinis DME. Umumnya, penanganan utama DME pada pasien diabetes dilakukan dengan pengendalian glikemia, lipid dan fungsi renal. Pasien dengan gula darah terkontrol juga perlu untuk mengontrol lipid dengan baik. Peningkatan kadar lipid dalam darah bisa menjadi faktor risiko yang meningkatkan potensi DME. Sayangnya, beberapa studi memperlihatkan hasil yang inkonsisten antara profil lipid dengan progresivitas DR, termasuk terkait DME. Perlu penanda lain yang lebih akurat. Apolipoprotein mulai dilihat sebagai biomarker yang lebih kuat,” lanjutnya.

Berangkat dari situasi tersebut, DR. Dr. Soefiandi Soedarman, SpM(K), Direktur Medik JEC @ Menteng mencetuskan penelitian mengenai perlunya parameter lain dalam menentukan progresivitas dan langkah penanganan DME -  yang tertuang dalam disertasi “Hubungan Kadar Serum Apolipoprotein A1, Apolipoprotein B Dengan Tingkat Keparahan, Progresivitas, dan Respon Terapi Diabetic Macular Edema Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar serum apolipoprotein A1, apolipoprotein B, dan rasio apolipoprotein B/A1 dengan progresivitas dan keberhasilan tatalaksana DME dalam kurun waktu enam bulan. Melibatkan 53 pasien DR, penelitian mendapatkan hasil bahwa apolipoprotein A1 yang rendah, apolipoprotein B yang tinggi, dan rasio apolipoprotein B/A1 yang tinggi dapat berfungsi sebagai penanda prediktor progresivitas DME yang lebih akurat dibandingkan dengan parameter profil lipid. Apolipoprotein A1 secara khusus berkaitan dengan manifestasi klinis progresivitas DME.

Pemaparan hasil penelitian dilakukan secara tepat, akurat dan sistematis pada Ujian Terbuka, Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, yang berlangsung hari ini (20/3), mengantarkan DR. Dr. Soefiandi Soedarman, SpM(K) meraih gelar Doktor.

Penelitian ini semakin relevan dengan situasi DM yang masih mengkhawatirkan. Prevalensi global DM mencapai 537 juta orang dewasa (20-79 tahun) pada 2021. Sementara jumlah penderita diabetes di Indonesia, data terakhir International Diabetes Federation menyebut angka 19,5 juta orang, tertinggi kelima di seluruh dunia. Bahkan diperkirakan akan terus meningkat menjadi 28,6 juta jiwa pada 2045.[2]

“JEC Eye Hospitals and Clinics terus mendukung upaya-upaya peningkatan kesehatan mata masyarakat Indonesia. JEC juga berupaya menginisiasi dan menerapkan temuan berbasis sains yang progresif, guna memberi solusi pada tantangan kesehatan mata yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia. Bersama jajaran praktisi yang mumpuni, seperti DR. Dr. Soefiandi Soedarman, SpM(K), JEC optimis mampu melanjutkan kontribusi, khususnya pada dunia kesehatan mata di negara ini,” ujar Mubadiyah, S.Psi, MM selaku Senior Kepala Divisi Markom JEC Eye Hospitals and Clinics.

 

Dari segi layanan, untuk menangani gangguan pada makula - termasuk DME, JEC selaku eye care leader di Indonesia telah memiliki layanan JEC Macula Center sebagai sentra penanganan khusus makula pertama di Indonesia dan satu-satunya yang dimiliki oleh sebuah institusi rumah sakit mata di Tanah Air. JEC Macula Center diperkuat 10 dokter spesialis retina; 4 di antaranya telah bergelar doktor. Layanan ini diperkuat Comprehensive Diagnostic Center dengan 15 kategori pemeriksaan diagnostik berteknologi mutakhir. 



[1] IDF Diabetes Atlas: “IDF Atlas 10th edition” (2021); https://diabetesatlas.org/atlas/tenth-edition/  

[2] Kementerian Kesehatan RI: “Apa Itu Retinopati Diabetik?” (2018); https://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/gangguan-indera/apa-itu-retinopati-diabetik

icon-doctor