Contact Lens
Lensa kontak adalah lensa kecil, tipis dan lentur yang dipasang di permukaan mata, biasa digunakan untuk membantu meningkatkan penglihatan. Lensa akan diatur kecembungannya sesuai dengan bentuk kornea sehingga membantu pembiasan cahaya untuk mencapai retina dengan lebih baik.

Memakai soft lens atau lensa kontak lunak memang dapat meningkatkan rasa percaya diri bagi sebagian pemakai kacamata, khususnya pemakai kaca mata tebal. Sementara itu, bagi mereka yang tidak memiliki gangguan refraksi mata apapun, terutama kalangan remaja, pemakaian lensa kontak lunak warna-warni dipercaya dapat membuat mereka terlihat semakin fashionable ketika berinteraksi dengan masyarakat.
Namun tahukah Anda bahwa pemakaian lensa kontak lunak yang banyak dipakai oleh masyarakat kita tanpa melalui prosedur pemeriksaan ke dokter mata sebelumnya dan pengawasan dokter mata ini dapat membahayakan nyawa sang pemakai?
Dr. Tri Rahayu, SpM, FIACLE menemukan banyak kasus dimana pasien mengalami gangguan mata akibat efek samping dari pemakaian lensa kontak lunak yang tidak benar, tanpa didahului dengan pemeriksaan dan tanpa sang pasien tahu apakah dia cocok atau tidak memakai lensa kontak.

Saya menemukan beragam kasus dari tingkatan ringan seperti mata pasien yang sedikit merah karena iritasi biasa hingga yang berat yaitu infeksi kornea atau keratitis. Kalau pasien selamat, dalam artian penyakit dapat disembuhkan atau infeksinya hilang, penyakit ini masih memungkinkan untuk meninggalkan jaringan parut bekas infeksi yakni berupa bercak putih di kornea. Padahal, kornea kita seharusnya bening, ujar Dr. Tri.

Jika infeksi sudah sangat berat, ketika virulensi atau patogen kuman sudah sangat kuat, kornea pasien akan tidak dapat disembuhkan dan mengancam kebutaan.
Ada kasus dimana kami harus mengangkat mata pasien, yaitu ketika infeksi sudah masuk ke bola mata bagian dalam atau yang disebut dengan endoftalmitis, demi menyelamatkan nyawa sang pasien, karena infeksi di dalam bola mata dapat menjalar ke rongga kepala dan otak terang Dr. Tri.

Beliau juga mengatakan penggunaan lensa kontak lunak jangka panjang dapat memicu reaksi alergi yang dapat saja muncul sesudah bertahun-tahun pemakaian. Gejala Alergi itu dapat berupa benjolan kecil-kecil di balik kelopak mata atau konjungtivitis papilaris di tingkat ringan hingga giant papillary conjunctivitis di tingkat yang berat, saat benjolan menjadi lebih besar. Reaksi alergi ini akan menimbulkan perlukaan di kornea karena setiap mata mengedip, benjolan akan menggores kornea.
Kasus-kasus yang muncul ini disebabkan dari bahan lensa kontak konvensional itu sendiri yang daya hantar oksigennya masih rendah. Ketika daya hantar oksigen itu tidak tinggi, belum lagi ditambah dengan pemakaian secara jangka panjang, kornea akan kekurangan oksigen dan daya tahan terhadap kuman menjadi kurang. Hal ini akan membahayakan kornea dan meningkatkan resiko untuk terjadi infeksi.
Pemakaian lensa kontak lunak yang tertib saja apalagi kalau overwearing (pemakaian berlebihan) dapat membuat mata menjadi kering, tambah Dr. Tri.
Saat gejala-gejala akibat penggunaan lensa kontak muncul, beliau mengatakan bahwa penanganan pertama adalah. Segera melepas lensa kontak dan memeriksakan mata ke dokter. Setelah itu baru dokter mata akan menentukan prosedur-prosedur yang dapat diambil selanjutnya untuk menyembuhkan mata pasien dan mengembalikan fungsinya seperti sedia kala.
Edukasi dan pencegahan merupakan hal yang sangat penting untuk menghindari terjadinya reaksi berbahaya dari penggunaan lensa kontak. Dengan memeriksakan mata ke dokter mata terlebih dahulu, maka resiko-resiko pemakaian lensa kontak menjadi berkurang secara signifikan dan membuat pasien tidak hanya aman memakainya tetapi juga nyaman dalam berlensa kontak.
Pasien juga diminta untuk kontrol ke dokter mata setiap enam bulan agar jika muncul tanda-tanda dini kekurangan oksigen, dokter dapat mengatasinya atau memberikan saran agar kondisinya tidak bertambah parah.
Jakarta Eye Center (JEC) baik di Kedoya maupun Menteng memiliki fasilitas lengkap mulai dari pemeriksaan awal, pemeriksaan kesehatan mata, konsultasi pemilihan lensa kontak, pemeriksaan penunjang untuk pengamatan dini komplikasi, hingga penyediaan lensa yang bervariasi sesuai dengan kebutuhan pasien.

Orthokeratology adalah suatu prosedur penggunaan lensa kontak rigid gas permeable desain khusus pada malam hari saat tidur untuk membentuk ulang permukaan kornea dengan tujuan menghilangkan kelainan refraksi (mata minus dan silinder) dan menghambat kenaikan minus pada anak anak yang minusnya cepat bertambah..

Lensa kontak rigid gas permeable desain khusus yang digunakan untuk maksud ini disebut dengan Orthokeratology contact lens atau disingkat dengan Ortho-K lens atau lensa kontak Ortho-K.

Lensa kontak Ortho-K bekerja saat malam hari (saat tidur), di mana lensa Ortho-K yang rigid tersebut dengan perlahan membentuk permukaan kornea bagian depan, mendatarkan kornea, sehingga sesudah lensa kontak Ortho-K di pagi hari ketika bangun tidur, pengguna dapat melihat dengan jelas.

Sampai saat ini, tidak terdapat batasan usia untuk pengguna Ortho-K. Program Ortho-K dapat menjadi pilihan bagi yang tidak dapat menggunakan lensa kontak karena alergi, ketidaknyamanan, dan juga mata kering. Ortho-K juga tepat bagi pengguna yang aktif berolahraga dan bekerja pada lingkungan yang berdebu atau outdoor, yang dapat menyebabkan masalah pada penggunaan lensa kontak. Begitu juga bagi yang secara usia masih terlalu muda untuk melakukan prosedur bedah refraktif seperti LASIK ataupun ReLEx SMILE, Ortho-K dapat menjadi alternatif.

Banyak studi yang telah dilakukan, dari berbagai penelitian jangka pendek maupun panjang pada penggunaan Orho-K, hasilnya sangat memuaskan. Ortho-K terbukti mampu menurunkan pregresivitas mata minus (myopia) dan juga mengontrol peningkatannya dibandingkan dengan pengguna kacamata.

Tercatat Ortho-K memiliki beberapa keunggulan, yaitutidak invasif, tidak membutuhkan tindakan bedah, serta bersifat sementara. Begitu pengguna berhenti menggunakan Ortho-K, kornea akan kembali ke bentuk semula beberapa hari kemudian, sehingga pengguna dapat kembali menggunakan kacamata atau lensa kontak kapanpun mau. Dan pengguna dapat menjalani LASIK atau ReLEx SMILE setelah penggunaan Ortho-K dihentikan dalam kurun waktu tertentu.

Ortho-K merupakan terapi yang sangat aman.Walaupun terdapat potensi resiko infeksi, namun berbagai studi menyatakan kemungkinan infeksi disebabkan oleh Ortho-K sangat kecil. Risiko tersebut juga dapat dihindarkan dengan konsultasi berkala dengan dokter mata spesialis lensa kontak dan menjaga kebersihan dari lensa kontak Orhto-K serta cairannya. Material lensa Ortho-K yang bersifat kaku dengan permeabilitas oksigen yang tinggi tersebut juga dapat mencegah penempelan bakteri ke permukaannya, dibandingkan dengan lensa kontak lunak.