Retina



RETINA  RETINOPATHY OF PREMATURITY

RETINA


Retina adalah lapisan jaringan pada bagian belakang mata yang bertugas menangkap cahaya. Cahaya yang diterima akan meransang syaraf untuk kemudian informasi yang diterima dikirim ke otak untuk diolah supaya kita bisa melihat.


Fungsinya kurang lebih sama dengan fungsi film atau sensor pada kamera. Sensor kamera berfungsi menangkap cahaya, kemudian menerjemahkannya menjadi gambar.


Karena berperan penting dalam menangkap cahaya, maka keberadaan retina sangat vital bagi penglihatan manusia. Gangguan yang dialami retina harus ditanggapi serius karena jelas akan menganggu penglihatan kita. Analoginya seperti kamera dengan film atau sensor yang rusak, maka gambar yang dihasilkan akan terganggu atau malah tidak ada gambarnya sama sekali. Begitupun jika retina kita terganggu, maka penglihatan akan buram sampai tidak bisa melihat sama sekali.


Untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan mata maka JEC telah membuka JEC Sentra Retina sebagai pusat perawatan spesialisasi retina pertama di Indonesia. Pelayanan yang lengkap dan menyeluruh dengan peralatan medis, bedah dan diagnostik modern. JEC Sentra Retina ini tentu saja didukung oleh tim dokter spesialis mata yang berkomitmen untuk membantu anda memperoleh indra penglihatan yang maksimal.


Prosedur operasi retina di JEC sangat lengkap dan maju. Untuk saat ini tindakan membrane peeling di Indonesia hanya dapat dilakukan di JEC. Membrane peeling adalah tindakan untuk menghilangkan/mengupas lapisan  membrane epiretinal yang terbentuk melapisi bola mata karena berbagai sebab, misalnya perubahan vitreous humor, diabetes atau pengerutan makula.


Untuk mendukung komitmen JEC untuk memberikan pelayanan kesehatan mata terbaik, maka JEC Sentra Retina telah dilengkapi dengan peralatan medis dan bedah yang lengkap, yaitu Complete Vitreoretinal Surgical Set berikut TSV (Transconjuctival Sutureless Vitrectomy), Micro-Endoscopy, Indirect Laser, PDT (Photo Dynamic Therapy), Diode and Yag Laser, Argon dan beberapa jenis alat medis lain.


JEC juga memiliki perlengkapan diagnosa yang lengkap, terdiri dari Digital FP (Fundus Photography), FFA (Fundus Fluorescein Angiography), USG (Ultrasonography), FCM (Flare Cell Meter), Humphrey Visual Field Analyzer, Laser Interferometry, OCT (Optical Coherence Tomography) dan HRT (Heidelberg Retinal Tomography).



Retina Service


Fasilitas diagnostik dan pengobatan mutakhir yang dimiliki JEC Sentra Retina adalah  yang terdepan di Indonesia. Teknologi Heidelberg Retinal Tomography (HRT) di Indonesia saat ini hanya tersedia di JEC.


Dengan alat ini pasien juga dapat melihat hasil diagnostik langsung pada layar komputer atau via print-out tiga dimensi. Hasil diagnostik menjadi lebih cermat dan dokter dapat mengambil keputusan pengobatan yang tepat sesuai dengan keadaan pasien.


Setiap tahun dilakukan lebih dari 400 tindakan operasi vitreoretina. Saat ini operasi retina melalui mikroendoskopi di Indonesia hanya dapat dilakukan di JEC. JEC juga perintis dalam Terapi Fotodinamik (PDT), terapi untuk mempertahankan penglihatan yang tersisa akibat AMD (Age Related Macular Degeneration).


JEC juga memiliki Fasilitas terapi laser untuk pengobatan gangguan retina seperti laser Yag, laser diode, laser argon.


*TSV adalah suatu metode operasi retina tanpa jahitan yang biasanya berlangsung hanya 45 menit.



Retinopathy of Prematurity



Adalah gangguan retina pada bayi prematur.


Bayi prematur dapat terkena Retinopathy of Prematurity (ROP) karena pada kondisi normal, retina mulai terbentuk pada usia kehamilan 16 Minggu. Pembuluh darah retina sendiri terbentuk sempurna sekitar 2 minggu setelah bayi dilahirkan secara normal, yaitu usia kehamilan 40 minggu. Maka itu, jika bayi lahir prematur maka beberapa jaringan organ tubuh belum terbentuk sempurna termasuk retina pada mata.


Kasus ROP pertama dilaporkan pada tahun 1942 oleh Dr. Theodore Lasater Terry di Boston, Amerika Serikat. Karena laporannya tersebut, maka ROP juga sering disebut Terry Syndrome. ROP merupakan penyebab kebutaan tertinggi pada anak-anak di Amerika Serikat dan salah satu penyebab utama kebutaan anak di seluruh dunia. Hal ini dilaporkan pada tahun 1980, dimana sebanyak 7000 anak di Amerika Serikat dinyatakan buta akibat ROP. Musisi Stevie Wonder adalah salah satu selebritis yang mengalami kebutaan karena ROP.

Sedangkan di Jakarta kasus ROP terjadi pada sekitar 30% bayi prematur. Persentase kemungkinan akan meningkat signifikan menjadi 80% jika bayi lahir dengan berat di bawah 1000 gram. Kasus ROP juga dapat mengalami komplikasi seperti retinal detachment, ambliopia (“mata malas”), strabismus/juling, bola mata mengecil (ptisis bulbi), katarak, dan glaukoma. Maka itu deteksi dini sangat penting dilakukan, untuk memperbesar peluang bayi prematur memperoleh penglihatan yang sempurna.Periksakan setiap bayi yang lahir prematur pada dokter mata di minggu ke-4 setelah kelahiran. Atau pada usia 31 minggu bila bayi lahir pada usia kandungan kurang dari 28 minggu.

Pemeriksaan dan deteksi dini pada bayi anda dapat dilakukan di JEC. Dokter mata di JEC akan memeriksa retina bayi dengan alat funduskopi dan/atau foto fundus digital untuk memotret retina bayi. Dengan alat ini keadaan retina bayi dapat dicitrakan secara jelas untuk membantu diagnosa dan perencanaan tindakan yang tepat.Tindakan pada kasus ROP  bergantung pada derajat keparahan penyakit. Pada kasus ROP yang ringan, dokter mata biasanya melakukan observasi atau tindakan regresi yang bersifat spontan. Pada kasus yang di anggap berat, maka mata bayi biasanya memerlukan tindakan laser atau krioterapi.

Perlu diketahui bahwa tidak semua kasus ROP dapat ditangani dengan sempurna. Konsultasi secara lengkap dan menyeluruh kondisi bayi dengan dokter spesialis mata di JEC untuk hasil tindakan maksimal.Jika bayi anda lahir prematur, segera konsultasikan pada tim dokter JEC. Tim dokter kami selalu berkomitmen membantu anda dan keluarga memperoleh pelayanan kesehatan mata yang terbaik.

* photo credit "Premature infant with ventilator" by ceejayoz - http://www.flickr.com/photos/ceejayoz/3579010939/. Licensed under CC BY 2.0 via Wikimedia Commons -