Gangguan pada Retina: Stroke Mata & Retinopati Diabetik
May 27, 2016

Ternyata selain di otak, serangan stroke juga bisa terjadi di mata karena tersumbatnya pembuluh darah yang berada di retina sehingga berakibat pada penurunan fungsi penglihatan secara tiba-tiba, bahkan sampai pada kebutaan permanen. Kasus ini disebut juga sebagai Stroke Mata.

Gejala stroke mata salah satunya adalah penglihatan yang tiba-tiba kabur atau menghilang, disebabkan oleh pembuluh darah di retina yang tersumbat dan pecah.

“Karena gejalanya persis seperti stroke, kita menyebutnya stroke mata. Yang tersumbat bisa pembuluh darah yang masuk atau pembuluh darah dalam tidak bisa keluar, jadinya pecah dan pendarahan," ungkap dr. Elvioza, SpM (K), Ketua Vitreoretina Service RS Mata JEC dalam acara Small Group Interview Gangguan pada Retina: Stroke Mata & Retinopati Diabetik.



Beberapa faktor risiko yang bisa menjadi penyebab terjadinya stroke mata yaitu pada orang-orang yang memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, penyakit kardiovaskuler, kolesterol tinggi, penggunaan alat kontrasepsi hormonal seperti pil KB. Sementara itu, perokok aktif dan juga ibu hamil merupakan golongan yang juga memiliki risiko tinggi terserang stroke mata. Selain itu, faktor genetik pun bisa menjadi salah satu faktor risiko yang mesti diperhitungkan.

"Makin banyak kita memiliki faktor risiko maka semakin besar peluang kita untuk terjadi stroke mata ini atau stroke di otak," jelas dr. Elvioza.


Retinopati Diabetik

Penderita diabetes juga patut mewaspadai serangan Retinopati Diabetik. Serupa dengan stroke mata, retinopati diabetik pada awalnya menyebabkan pandangan mengabur dan dapat berkembang menjadi kebutaan jika tidak diobati. Penyakit ini juga dapat menyebabkan edema makula (pembengkakan bagian tengah retina), yang tentu semakin memperburuk penglihatan bagi penderita diabetes.

Untuk itu, dokter ahli retina ini pun mengingatkan masyarakat untuk menerapkan gaya hidup sehat agar terhindar dari penyakit yang bisa menjadi faktor risiko terjadinya stroke mata dan retinopati diabetik, khususnya bagi kalangan usia muda. Pasalnya, dahulu penyakit seperti diabetes melitus, hipertensi, dan hiperkolesterol lebih banyak diderita oleh kalangan lanjut usia namun kini sudah terjadi pergeseran.

Pencegahan Stroke Mata & Retinopati Diabetik

dr. Elvioza pun mengemukakan untuk mencegah stroke mata dan retinopati diabetik, sebaiknya masyarakat mulai menerapkan gaya hidup sehat sejak dini, antara lain:

  • dengan makan makanan sehat dan seimbang serta memperbanyak asupan sayur dan buah,

  • menjaga kadar gula darah, kadar kolesterol, dan tekanan darah,

  • selain itu, juga perlu membiasakan berolahraga serta menjauhi rokok.  


Sebelum terlambat, dokter Elvioza pun menyarankan agar masyarakat memeriksakan kondisi kesehatan matanya sedini mungkin terutama bagi orang-orang yang memiliki faktor risiko yang telah disebutkan tadi. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah kebutaan permanen yang diderita akibat serangan stroke mata dan retinopati diabetik ini. Pasalnya, jika sudah terlanjur terjadi kebutaan, potensial loss-nya sangat besar karena merawat orang buta bisa menggangu produktivitas orang di sekitarnya.

"Bisa ratusan juta potensial loss-nya dalam setahun. Makanya harus dicegah," tegasnya.

Pengobatan Stroke Mata & Retinopati Diabetik

Jika sudah terlanjur terserang stroke mata atau retinopati diabetik, maka tindakan yang bisa diambil dokter adalah dengan melakukan terapi obat dan juga laser agar kerusakannya bisa diminimalisir. Tetapi, jika kerusakan sudah terlanjur tersebar, maka bisa dilakukan tindakan operasi.

"Penanganan standard kita biasanya dengan laser. Setidaknya itu bisa mencegah penyakit progresif, makin buruk, dan ujung-ujungnya terjadi kebutaan. Kalau bisa dibantu dengan mengontrol faktor risiko, maka makin baik. Jadi, kita menghindari jangan sampai pasien menderita kebutaan," tuturnya.

Selama dirinya praktik di RS Mata JEC, dr. Elvioza mengakui setiap harinya bisa menangani 2-3 orang pasien yang terserang stroke mata atau retinopati diabetik yang sebagian besar sudah terlanjur berada ditahap yang lebih lanjut. Sayangnya, kebanyakan pasien yang mengalami gangguan pada retina tersebut tidak terdiagnosis secara jelas sebelumnya.

Tetapi, kini dengan teknologi diagnostik modern dan lengkap yang dimiliki JEC, pasien mendapat pemeriksaan yang komprehensif dengan aman dan nyaman sehingga tindakan yang diambil pun bisa lebih tepat. Salah satunya dengan metode laser yang digunakan di JEC untuk penderita stroke mata yang akurat tepat sasaran dan dilakukan hanya membutuhkan 10-15 menit saja.

"Kalau masih ringan dan cepat ditangani, penglihatan pasien bisa kembali normal," tutupnya.