GLAUKOMA "SI PENCURI PENGLIHATAN"
Banyak di antara kita yang pernah mendengar cerita tentang glaukoma. Cerita-cerita tersebut biasanya didapat dari menyaksikan saluran televisi, membaca ulasan di majalah, atau dari mulut ke mulut. Meskipun begitu, tahukah anda apa itu glaukoma?

Glaukoma adalah penyakit saraf mata dimana terjadi kerusakan saraf yang menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan yang permanen secara perlahan dan peningkatan tekanan bola mata merupakan faktor risiko utama. Penyakit ini merupakan penyebab kebutaan kedua terbesar setelah katarak. Glaukoma sering disebut sebagai pencuri pengelihatan karena penyakit ini sebagian besar tidak bergejala sehingga pasien cenderung tidak menyadari bahwa dirinya memiliki glaukoma hingga akhirnya terjadi kerusakan fungsi penglihatan yang cukup berat.  

Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan glaukoma. Tujuan pengobatan glaukoma adalah untuk mengontrol dan mencegah perburukan dari penyakit tersebut. Tanpa pengobatan yang tepat, glaukoma dapat berakhir pada kebutaan.  Namun dengan berkembangnya berbagai alat pemeriksaan glaukoma untuk deteksi dini, pemeriksaan mata secara berkala, dan berbagai metode terapinya, glaukoma dapat dikontrol dan penglihatan pun dapat diselamatkan.

Bagaimana Kerusakan Saraf Mata pada Glaukoma?
Pada sebagian besar kasus glaukoma, tekanan bola mata yang tinggi merupakan penyebab terjadinya kerusakan saraf mata. Biasanya hal ini disebabkan oleh terganggunya cairan keluar pada sistem drainase cairan bola mata yang mengakibatkan penumpukan cairan bola mata sehingga terjadi peningkatan tekanan intraokular.  Peningkatan tekanan ini merusak saraf mata dan berakhir dengan hilangnya luas penglihatan.

 
Mekanisme terjadinya glaukoma

Tingginya tekanan bola mata merupakan faktor risiko utama terjadinya kerusakan saraf pada glaukoma. Namun disisi lain, glaukoma dapat terjadi pada beberapa pasien dimana tekanan bola mata masih dalam kisaran yang dianggap normal. Hal ini sering disebut sebagai normal tension glaucoma atau glaukoma normotensi. Walaupun mekanismenya belum sepenuhnya dimengerti, tetapi terdapat beberapa faktor yang diduga dapat menyebabkan hal ini antara lain adanya gangguan vaskular sistemik.

Untuk makin melengkapi pemahaman Anda tentang glaukoma, ada baiknya Anda juga memahami cara kerja bola mata. 

Sekilas mengenai cara kerja bola mata
Mata kita terdiri dari berbagai macam bagian. Bagian putih mata disebut sklera, yang berfungsi melindungi bola mata.  Sklera ini dilapisi oleh selaput bening yang disebut konjungtiva.  Kornea merupakan jaringan bening bagian depan bola mata yang berfungsi meneruskan cahaya masuk ke dalam  bola mata.  Iris merupakan bagian berwarna dari mata yang menyerupai diafragma kamera. Pada orang Asia warna iris umumnya berwarna cokelat. 

Iris membentuk pupil atau anak mata. Pupil dapat membesar dan mengecil sesuai dengan jumlah cahaya  yang akan masuk ke dalam bola mata.  Lensa terletak di belakang iris dan berfungsi untuk memfokuskan cahaya ke retina. Dengan bertambahnya usia dan faktor-faktor lain (pajanan sinar ultraviolet, trauma dll), lensa dapat mengalami kekeruhan dan menjadi katarak. Retina merupakan saraf mata dengan serabut saraf yang akan menghantarkan bayangan melalui saraf optik menuju otak.

Anatomi Bola Mata

Aliran Cairan Bola Mata dan Tekanan Bola Mata
Bagian depan dari bola mata diisi oleh cairan bening (cairan bola mata atau akuos humor) yang dihasilkan oleh suatu jaringan dibagian belakang iris yang disebut sebagai badan siliar.  Cairan ini mengalir melalui pupil lalu menuju ke sudut bilik mata depan dan kemudian mengalir keluar mata melalui sistem drainase bola mata (anyaman trabekulum yang berada pada pangkal iris). Aliran akuos yang lancar menjaga tekana bola mata tetap dalam kisaran normal. Tekanan bola mata tergantung dari keseimbangan cairan yang dihasilkan badan silier dan sistem drainase akuos humor melalui anyaman trabekulum.

Tekanan bola mata dapat bervariasi sepanjang hari, namun biasanya berada dalam kisaran normal. Rentang tekanan bola mata yang dianggap normal biasanya berkisar antara 10 mmHg- 21mmHg. 

Perjalanan Penyakit Glaukoma
Glaukoma biasanya bersifat kronik progresif yang artinya kerusakan terjadi dalam waktu yang lama dan semakin lama semakin berat. Penyakit ini umumnya terjadi pada kedua mata dengan tingkat keparahan yang bisa saja berbeda. Kerusakan saraf pada glaukoma menyebabkan hilangnya lapangan pandang seseorang. Seringkali hilangnya luas penglihatan awalnya terjadi pada sisi perifer atau tepi, sehingga pasien tidak memiliki keluhan dalam aktivitas sehari-hari.  Apabila tekanan intraokular terus tidak terkontrol maka penglihatan sentral pun akan rusak secara permanen.

Apa gejala dari glaukoma?
Pada kebanyakan kasus, peningkatan tekanan intraokular berlangsung perlahan dan TIDAK bergejala.  Pada sebagian kecil kasus, gejala dapat muncul berupa :
  • Penglihatan berkabut
  • Sakit kepala disertai sakit di sekitar bola mata
  • Mual atau muntah
  • Melihat halo atau pelangi disekitar cahaya
  • Penglihatan buram mendadak

Apa saja faktor risiko glaukoma?
Glaukoma dapat menyerang siapa saja dari semua golongan umur, baik bayi ataupun manula.  Walaupun semua orang dapat menderita glaukoma, terdapat beberapa golongan yang memiliki risiko lebih tinggi diantaranya:
  • Riwayat keluarga dengan glaukoma
  • Usia diatas 40 tahun
  • Ukuran kacamata minus atau plus yang tinggi
  • Ras Asia atau Afrika
  • Diabetes
  • Penggunaan obat-obatan steroid
  • Ketebalan kornea yang tipis

Ras Asia memiliki risiko yang lebih tinggi untuk terjadinya glaukoma

Kapan seseorang perlu melakukan skrining glaukoma?
Deteksi dini merupakan cara pencegahan kebutaan akibat glaukoma yang paling penting. Kerusakan akibat glaukoma bersifat permanen sehingga apabila kerusakan sudah terjadi, gangguan pengelihatan yang sudah terjadi tidak bisa dikembalikan lagi. Skrining berkala dilakukan untuk mendeteksi glaukoma secara dini. Pemeriksaan skrining glaukoma biasanya dilakukan pada:
  • Sebelum usia 40 tahun: setiap 2-4 tahun
  • Sesudah usia 40 tahun: setiap 2 tahun
  • Dengan riwayat keluarga memiliki glaukoma: setiap 1 tahun

Tipe Glaukoma
Terdapat berbagai tipe glaukoma dengan perjalanan penyakit yang berbeda dan pendekatan terapi yang berbeda. Tipe yang tersering di antaranya adalah Glaukoma Primer Sudut Terbuka dan Tertutup.

1. Glaukoma Primer Sudut Terbuka 

Pada Glaukoma tipe ini, sudut bilik mata depan terbuka namun terdapat hambatan pada aliran keluar cairan bola mata. Keadaan ini diakibatkan oleh penyumbatan kanal dalam anyaman trabekulum secara perlahan, yang berakibat peningkatan tekanan intraokular. Pasien dengan glaukoma tipe ini umumnya tidak menunjukkan gejala, karena kerusakan terjadi secara perlahan dalam jangka panjang.

Umumnya yang mengalami kerusakan awal adalah lapangan pandang perifer sampai akhirnya pada tahap lanjut mulai mempengaruhi penglihatan sentral. Dengan deteksi sedini mungkin, glaukoma primer sudut terbuka dapat berespon baik dengan obat-obatan, tergantung dengan tingginya tekanan bola mata. Tujuan dari terapi adalah untuk mengontrol tekanan bola mata dan menghambat progresifitas penyakit. Perlu diingat bahwa obat-obatan tetes mata akan digunakan seumur hidup bila target tekanan bola mata sudah tercapai, sehingga tidak terjadi kerusakan lebih lanjut. Pada beberapa kasus, tekanan bola mata tidak cukup dikontrol dengan obat-obatan.  Pada kondisi ini perlu dilakukan tambahan tindakan laser atau bedah filtrasi untuk menurunkan tekanan bola mata.

Aliran Akuos Humor di dalam bola mata

2. Glaukoma Primer Sudut Tertutup
Glaukoma jenis ini memiliki sudut bilik mata depan yang sempit sehingga terjadi hambatan pada aliran keluar cairan bola mata. Perjalanan penyakitnya bisa bersifat kronik maupun akut. Tipe akut adalah kondisi dimana tekanan bola mata meningkat sangat tinggi dalam waktu cepat. Pasien umumnya datang dengan keadaan mata merah, penglihatan buram mendadak disertai rasa sakit di kepala dan di sekitar bola mata. Bisa juga disertai dengan mual dan muntah. Pada tahap awal terdapat halo atau pelangi saat melihat cahaya.  Tujuan tatalaksana serangan glaukoma akut adalah untuk menurunkan tekanan bola mata secepat mungkin. Terapi meliputi terapi obat-obatan dan laser. Apabila tekanan bola mata tetap tinggi, dapat dipikirkan untuk melakukan tindakan bedah.  Seseorang yang mengalami serangan akut pada satu mata memiliki risiko serangan akut pada mata sebelahnya. Oleh karena itu, dokter biasanya akan menyarankan laser preventif pada mata sebelahnya untuk mengurangi risiko terjadinya serangan.

  

Tindakan laser pada Glaukoma Primer Sudut Tertutup


Di samping kedua tipe glaukoma sebelumnya, ada juga ragam glaukoma lainnya, seperti:

1. Glaukoma Sekunder

Glaukoma yang muncul akibat kondisi atau kelainan lain di mata yang dapat merupakan akibat dari trauma, inflamasi, tumor, komplikasi dari katarak, diabetes, atau penggunaan steroid jangka panjang.  Tatalakasana glaukoma sekunder dapat bervariasi bergantung tipe dari glaukoma itu sendiri.

2. Normal Tension Glaucoma atau Glaukoma Normotensi

Tipe glaukoma dimana terjadi kerusakan saraf glaukoma tetapi tekanan bola mata masih dalam rentang yang dianggap normal. Mekanisme pastinya belum diketahui tetapi terdapat dugaan bahwa faktor gangguan pada vaskularisasi saraf mata memegang peranan. Faktor risiko lain diantaranya adalah adanya riwayat keluarga glaukoma, pasien keturunan Jepang atau Korea, migrain atau pasien dengan riwayat penyakit jantung sistemik.

3. Glaukoma Kongenital

Glaukoma ini terjadi pada bayi baru lahir akibat terdapatnya gangguan dalam pembentukan saluran drainase cairan mata dalam kandungan. Kondisi ini adalah kelainan yang jarang terjadi, dan diduga diturunkan secara genetik.

4. Glaukoma Eksfoliatif

Kondisi ini terjadi bila terdapat deposit materi kapsul lensa pada sistem drainase cairan mata.  Glaukoma ini umum dijumpai pada keturunan Skandinavia.  

5. Glaukoma Neovaskular

Glaukoma neovaskular disebabkan oleh terbentuknya pembuluh darah baru pada iris dan saluran drainase mata yang menyebabkan tersumbatnya saluran keluar cairan bola mata. Penyakit ini sering disebabkan oleh komplikasi dari Diabetes Mellitus, stroke mata ataupun kelainan lain diameter.

6. Glaukoma Uveitis

Uveitis merupakan proses radang pada jaringan uvea didalam bola mata. Glaukoma akibat uveitis dapat terjadi melalui dua mekanisme, diantaranya akibat penyumbatan saluran drainase oleh sel-sel radang atau penggunaan steroid jangka panjang yang umumnya digunakan untuk menangani uveitis.

7. Glaukoma Akibat Trauma

Trauma pada bola mata dapat mengakibatkan glaukoma segera setelah trauma atau beberapa lama setelah kejadian.  Trauma yang terjadi dapat berupa trauma tumpul atau trauma tembus dalam bola mata.

8. Glaukoma Akibat Steroid

Penggunaan steroid jangka panjang bisa menyebabkan terjadinya kerusakan pada saluran keluar bola mata. Kerusakan ini menyebabkan aliran keluar cairan bola mata terhambat dan tekanan bola mata menjadi meningkat. Tingkat kerusakan dipengaruhi oleh jenis steroid, dosis penggunaan dan lamanya penggunaan zat tersebut. Efek samping ini bisa terjadi pada penggunaan steroid oral, inhaler, tetes maupun salep. Pada beberapa orang yang sensitif terhadap steroid, penggunaan jangka pendek pun bisa menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan bola mata.

Jadi, apakah paparan di atas cukup membantu anda dalam memahami glaukoma? Sebagai penutup, ada hal penting yang perlu Anda cermati, bahwa glaukoma sebagian besarnya tidak bergejala sehingga pasien cenderung tidak mengetahuinya. Maka dari itu, deteksi dini merupakan cara pencegahan kebutaan akibat glaukoma yang paling penting untuk dilakukan. Dan, bagi Anda yang masih ingin menambah pengetahuan tentang glaukoma, utamanya cara diagnosa dan terapinya, nantikan artikel selanjutnya.